YUK, BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA

MIMPIKU

Pagi hari yang cukup cerah mengantarkan saya pergi untuk mengajar muridku di sekolah dimana tempat saya bertugas tahun ini. Dengan menggunakan sepeda motorku aku menyusuri jalanan ibu kota Jakarta yang dikenal dengan kota metropolitan meskipun bisa dikatakan kota metropolitan jika melihat jalan di depan Sudirman dan Thamrin kalo dibelakang jalan itu rasanya akan sulit kita mengatakan kalau Indonesia memiliki kota metropolitan.

Dengan semangat aku mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat karena hari masih pagi jadi aku masih sedikit lebih santai. Di sepanjang jalan yang aku lalui terlihat jalanan yang begitu bersih, pohon yang rindang, taman kota yang tertata rapih dan udara yang cukup bersih, tidak ada tumpukan sampah, yang ada hanya beberapa penyapu jalan berseragam sedang membersihkan daun-daun kering yang jatuh ke aspal melihat mereka sejenak aku berhenti dan memberikan sedikit rejeki buat mereka soalnya saya sangat bersimpati dengan mereka kerena dengan gaji yang kecil dan tidak menentu mereka selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik walaupun hujan dan panas. Setelah aku memberikan sedikit rejeki aku melanjutkan perjalananku dan disebelah kiriku aku melihat sungai yang bersih dan sama sekali tidak ada sampah didalam sungai itu dan itu menambah keindahan kota ini.

Mendekati tempatku bekerja tiba-tiba aku melihat sebuah mobil membuka kaca jendela mobilnya dan melemparkan sampah ke jalanan dan alangkah terkejutnya aku melihat kejadian tersebut dan membuatku jengkel melihat tingkah pengendara mobil tersebut dan tidak berapa lama seorang polisi menghentikan mobil tersebut dan langsung memberikan surat denda akan perbuatannya serta meminta pengendara mobil tersebut untuk mengambil sampah yang dia buang di jalan lalu menaruhnya ditempat sampah yang ada dipinggir jalan. Aku sangat kagum akan hal itu dan memberikan apresiasi kepada seluruh pemerintah, masyarakat, dan pihal lain yang ada di kota ini  untuk mejaga kebersihan ibu kota kita yang kita cintai ini dan seketika itu pula aku bangun, tersadar ternyata itu cuma mimpi.

 

Advertisements