UN, PENTING NGAK PENTING

Tahun 2015 ini membawa berita bagus bagi para peserta didik di seluruh Indonesia yang akan lulus dari sekolah menengah atas (SMA) karena Ujian Nasional (UN) bukan lagi sebagai penentu kelulusan sesuai dengan sosialisasi yang dilakukan oleh Kementerian pendidikan dasar menengah dan kebudayaan.

Kebijakan ini sebenarnya memiliki dampak yang beragam bagi sekolah, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Bagi peserta didik hal ini membawa dampak yang beragam pula dikarenakan UN bukan lagi sebagai penentu kelulusan, ada peserta didik yang mengangap remeh UN karena bisa lulus dengan nilai berapa saja asalkan ujian sekolah dan raport bagus berarti bisa lulus, dengan kata lain sebagian siswa merasa UN itu tidak penting lagi dan mereka tidak memiliki motivasi untuk mendapat nilai tinggi di UN. Untuk apa meraih nilai tinggi di UN, toh saya tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi? saya cuku PD (percaya diri) nilai saya disekolah dan perilaku saya juga selama di sekolah juga baik karena tidak pernah memiliki kasus di sekolah. Tentunya hal ini disebabkan orientasi siswa peserta didik yang salah dalam menjalani pendidikan mereka, peseta didik hanya berorientasi pada nilai bukan pada skill kehidupan mereka, hanya belajar untuk lulus bukan untuk menyiapkan diri mereka untuk sekolah yang sesungguhnya itu kehidupan mereka di masa depan.

Bagi para Guru, hal ini sedikit mengurangi bahan untuk memotivasi siswa supaya lebih rajin belajar. Tidak ada lagi kata-kata “ ayo anak-anak, kalian harus semakin rajin belajar. UN sudah dekat” karena kata-kata ini sudah tidak ada artinya lagi, disamping itu dengan kebijakan ini Guru dan sekolah akan mendapatkan penghormatan yang lebih tinggi dimata para peserta didik karena nasib kelulusan mereka ada ditangan sekolah dalam hal ini adalah Guru. Dan tentunya tidak ada guru yang tega melihat air mata siswanya karena tidak lulus kecuali karena ada kasus lain disekolah. Sekolah juga tidak akan dibebani dengan tugas lulus 100% yang terkadang membuat harus melakukan sesuatu yang tidak seharusnya sehingga pada ujungnya menjadi air mata guru.

Bagi para orang tua tentunya ini berita yang sangat mengembirakan karena tidak ada lagi ketakutan mereka melihat anak mereka pulang dengan air mata karena menerima surat ketidaklulusan atau melihat anak mereka stress menghadapi UN karena takut tidak lulus bahkan sebelum UN dilaksanakan sudah sakit duluan saking stressnya, tidak ada lagi kecemasan yang luar biasa pada saat pengumuman hasil UN. Orang tua juga tidak akan melihat anak-anak mereka di TV berdoa bersama di sekolah sambil mengeluarkan air mata bahkan sampai ada yang pingsan atau kesurupan akibat luar biasanya dampak dari yang namanya UN.

Dari berbagai hal diatas, apakah UN itu penting, untuk apa UN? Kalau menurut Kementerian UN masih tetap dibutuhkan untuk memetakan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini,jadi tidak ada alasan untuk menghapus UN. Jadi, UN penting atau tidak penting? Penting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s