MAAF MAMA,NILAIKU TIDAK BAGUS

Leave a comment

Penilaian  merupakan bagian dari sebuah proses pendidikan. Dalam kurikulum pendidikan kita ada tiga aspek yang akan dinilai guru terhadap peserta didiknya yaitu psikomotorik (keterampilan), Koqnitif (pengetahuan), dan Afektif (sikap) bahkan dalam Permen no 66 Tahun 2013 telah diatur standar penilaian seorang peserta didik yang mencangkup 11 item untuk menilai peserta didik. Dalam Kurikulum 2013 telah diperinci sedemikian rupa sehingga akan didapatkan nilai yang benar-benar otentik tentang sang peserta didik meskipun dalam penerapannya di Nusantara ini belumlah maksimal, hal ini disebabkan ketidaktersediaan prasarana pendukung dan juga sumber daya manusianya.

Penilaian ketiga aspek tersebut diatas sesungguhnya bukanlah hal baru di negara-negara maju karena mereka telah didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai termasuk sumber daya manusianya. salah satu contohnya pada saat peserta didik di kelas hanya terdiri dari 20 -25 peserta didik dan didalam satu kelas terdapat 2 guru yang membimbing. 1 orang menyampaikan materi dan satu orang lagi menilai peserta didik selama berada di kelas untuk mengikuti proses pembelajaran. Hal ini tentunnya berbeda dengan yang ada di negara kita dimana terkadang jumlah siswa 36 orang dengan 1 guru tetapi harus melakukan penilaian terhadap 3 aspek sebagaimana diuraikan diatas.

Orang tua peserta didik tentunya mengharapkan ketiga aspek tersebut mendapatkan nilai yang baik tetapi pada dasarnya tidak semua anak bisa mendapatkan nilai baik pada ketiga aspek tersebut sehingga anak akan cenderung dipaksakan yang berujung menambah beban sang anak. Salah satu contohnya, seorang anak mendapatkan nilai 50 pada mata pelajaran Matematika tetapi si anak tersebut mendapatkan nilai 90 pada mata pelajaran seni musik, umumnya orang tua akan merasa anaknya tidaklah pintar dan langsung disuruh untuk mengikuti les (bimbingan belajar) untuk Matematika bukannya mengikutsertakan pada kursus musik supaya kemampuan seni yang dimiliki anaknya lebih terasah dan lebih terampil dalam bermusik dan pada akhirnya anak merasa terbebani dan tidak menikmati apa yang dia jalani. Jangankan anak, orang dewasa sekalipun akan lebih bahagia jika melakukan sesuatu yang dia suka dan akan merasa terbebani jika melakukan sesuatu hal yang tidak dia suka.

Dari contoh diatas ada kesan memaksa pada diri seorang anak yang terkadang tanpa disadari oleh orang tua maupun tenapa pendidik akan berujung pada perilaku menyimpang dari peserta didik seperti menyontek pada saat ulangan harian atau pada saat ujian dikarenakan akan adanya rasa ketakutan pada diri anak jika tidak mendapatkan nilai yang baik serta menghindari cap anak kurang pintar dari orang tua maupun lingkungan sekitarnya.

Hal ini sangat berbahaya jika terbawa sampai kelak dia menjadi dewasa, tidak tertutup kemungkinan jika saat dewasa nanti akan menghalalkan segala cara demi menghindari perspektif (pandangan) negatif dari lingkungan sekitarnya, misalnya jika dilingkungan dia tinggal dikelilingi oleh orang yang memiliki kekayaan lebih darinya sehingga dia mendapatkan cap/label miskin dilingkungannya maka dia akan melakukan sesuatu yang tidak semestinya untuk menghindari hal tersebut seperti melakukan korupsi dan tindakan lain yang diluar ketentuan hukum/norma yang pada ujungnya dia akan mendapat label yang lebih parah dari sebelumnya. Dengan demikian orang tua, sekolah, dan lingkungan harus menyadari akan hakekat nilai yang sesungguhnya. Nilai yang rendah pada mata pelajaran sains bukan bararti tidak pintar tetapi kepintarannya belum tergali di bidang yang lain.

Orang tua juga harus menghindari/menghilangkan perspektif dimana hanya anak pintar dibidang sainslah yang akan menjadi orang sukses karena pandangan tersebut jelaslah salah karena pada dasarnya kesuksesan seseorang itu bukan semata-mata karena nilai yang baik di selembar kertas tetapi karena kerja keras. Sudah banyak contoh dinegeri ini yang mendukung hal tersebut seperti Susi Pudjiastuti, dia pengusaha yang hanya tamatan SMP tetapi dia pekerja keras dan saat ini dia menjadi pengusaha dan dipilih menjadi seorang menteri yang mencatat sejarah baru di Indonesia.

 

NEGARA MAJU BUKAN KARENA DIISI OLEH ORANG-ORANG PINTAR TETAPI ORANG-ORANG PEKERJA KERAS”

 

Advertisements

NILAI DAN UJIAN

Leave a comment

Disaat seorang anak masuk ke sekolah hal pertama yang biasanya disampaikan orang tua pada anaknya adalah rajin belajar supaya pintar dan dalam pemahaman orang tua kata pintar dapat diukur dari nilai yang diperoleh oleh anak melalui ulangan harian, ulangan praktek, dan ujian-ujian lain yang berujung pada selembar kertas yang saat ini disebut dengan sertifikat. Orang tua akan sumiringah jika nilai anak-anak mereka tinggi dan sebaliknya akan memarahi anaknya jika nilai yang diperoleh rendah dan cenderung menyalahkan anaknya. Terkadang orang tua lupa jika pada dasarnya seorang anak masuk ke sebuah institusi pendidikan pada dasarnya bukanlah untuk mendapatkan nilai ataupun pintar semata. Kita harus mengingat bahwa tujuan pendidikan itu adalah merubah perilaku (change behavior) bukan mencari nilai. Hal inilah yang saat ini sering dilupakan oleh orang tua. Orang tua cenderung hanya melihat nilai yang tercantum dalam lembaran kertas bukan pada nilai yang sesungguhnya yaitu adanya perubahan perilaku anak mereka baik pada saat dia dirumah, bergaul dengan temannya, berbicara dengan orang tuanya, bersikap jika dia menghadapi sebuah masalah, bagaimana dia menyelesaikan kesulitan yang dia hadapi  dalam kehidupannya sehari-hari.

 

Lembaga pendidikanpun sesunguhnya tidaklah baik jika langsung merasa bangga sebagai tempat menuntut ilmu yang bagus atau hebat jika lulusan-lulusan mereka mendapat nilai bagus dan lulus 100% pada ujian nasional yang diselenggarakan negara dan para pendidik dan tenaga kependidikan pada lembaga tersebut langsung merasa bahwa mereka telah sukses mendidik siswa-siswinya sehingga lulus 100% dan masyarakatpun akan memberi label dengan sebutan sekolah favorit atau sekolah bagus padahal tanpa mereka sadari bahwa banyak para korupror-koruptor yang ada dinegeri ini berasal dari sekolah-sekolah yang mereka cap sebagai sekolah favorit alias sekolah bagus.

Pendidikan yang bagus bukannlah dinilai seberapa banyak siswanya lulus dengan nilai tinggi tetapi dari seberapa banyak siswanya yang memiliki perubahan perilaku setelah mereka menyelesaikan masa pendidikan mereka di sekolah dan hasil yang sesungguhnya akan terlihat pada generasi-generasi di masa yang akan datang ataupun dalam pola tingkah hidup mereka setiap hari, pendidikan dapat dikatakan berhasil jika anak-anak sudah tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengucapkan kata-kata kasar pada temannya apalagi pada orang yang lebih tua, memahami mana hak dan kewajibannya, menunjukkan rasa hormat pada orang yeng lebih tua dan menghargai perbedan-perbedaan disekitar mereka dan hal-hal lain yang pada dasarnya dapat kita lihat secara kasat mata. Jika lembaga pendidikan  telah berhasil meluluskan anak-anak seperti itu maka dimasa yang akan datang, generasi masa depan bangsa ini akan menciptakan kota yang bersih, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, dan akan menikmati indahnya kebhinekaan nusantara.