JUJUR

Menteri Kebudayaan Dasar dan Menengah dalam satu wawancara di sebuah televisi mengatakan bahwa dalam Ujian Nasional (UN) 2015 indeks kejujuran harus kita tingkatkan. Hal tersebut beliau sampaikan dalam menanggapi persoalan bocornya soal-soal ujian nasional yang dilakukan oleh oknum yang ingin merusak generasi muda bangsa . Tidak dapat dipungkiri jika melihat apa yang terjadi saat ini bahwa ada sekelompok oknum yang ingin merusak generasi bangsa dengan dalih membantu untuk lulus ujian dengan tidak stres.

Secara logis alasan tersebut tidaklah masuk akal karena apa yang mereka lakukan merupakan sebuah tindak kejahatan yang jelas-jelas membawa anak ke lembah kehancuran. UN 2015 bukan lagi penentu kelulusan tetapi ternyata masih menjadi momok menakutkan bagi peserta didik sehingga hal tersebut dimanfaatkan oleh oknum untuk menawarkan kunci jawaban UN tentunya dengan imbalan sejumlah uang.

Hal tersebut sesunguhnya merupakan pukulan berat bagi dunia pendidikan kita, seorang peserta didik rela menjual kejujuran demi nilai yang baik. Seorang peserta didik begitu bangga mendapat nilai bagus padahal hasil dari sebuah kebohongan yang memunculkan pertanyaan dari masyarakat, apakah disekolah tidak diajarkan mengenai kejujuran? Jika melihat kasus tersebut jelas terlihat bagi sebagian insan peserta didik kita kejujuran menjadi barang yang mahal dan langka. Tidak heran jika generasi saat ini didominasi orang-orang yang tingkat kejujurannya sangat rendah dan orang-orang jujur menjadi langka bahkan orang jujur cenderung disingkirkan. Kalau begitu apakah kita masih bisa berharap jika lembaga-lembaga negara kita diisi oleh orang jujur, apakah negara kita bisa maju tanpa didukung oleh kejujuran seluruh komponen masyarakat? Tentunya bisa, jika kita mau melakukan revolusi pada dunia pendidikan kita.

Revolusi pendidikan kita bukan semata-mata merubah kurikulum, melatih guru-guru, memperbaiki sarana dan prasarana dan lain sebagainya tetapi revolusi pendidikan dalam arti luas yaitu perubahan dari setiap jenjang pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi, pendidikan jangan lagi hanya mencangkup pada pengetahuan dan skill semata tetapi harus mulai menanamkan nilai-nilai moral yang ada di lingkungan masyarakat. Revolusi pendidikan tidak bisa hanya dilimpahkan kepada departemen pendidikan, sekolah, guru tetapi harus juga melibatkan seluruh komponen masyarakat termasuk orang tua peserta didik. (PEB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s