Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Secara Akronim PKBM berarti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Pemaknaan nama inipun dapat menjelaskan filosofi PKBM. Hal ini dapat dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :

  1. Pusat, berarti bahwa penyelenggaraan PKBM haruslah terkelola dan terlembagakan dengan baik. Hal ini sangat penting untuk efektivitas pencapaian tujuan, mutu penyelenggaraan kegiatan-kegiatan, efisiensi pemanfaatan sumber-sumber, sinergitas antar berbagai kegiatan dan keberlanjutan keberadaan PKBM itu sendiri. Hal ini juga berkaitan dengan kemudahan untuk dikenali dan diakses oleh seluruh anggota masyarakat untuk berkomunikasi, berkoordinasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak baik yang berada di wilayah keberadaan PKBM tersebut maupun dengan berbagai pihak di luar wilayah tersebut misalnya pemerintah, lembaga-lembaga nasional maupun internasional, dan sebagainya.Adanya pelembagaan berbagai kegiatan pembelajaran ini juga merupakan salah satu kelebihan dari keberadaan PKBM dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Pada umumnya, dalam setiap kelompok masyarakat hampir selalu ada berbagai upaya pembelajaran yang bersifat non formal. Namun seringkali berbagai kegiatan dan program tersebut tidak terkelola dan terlembagakan dengan baik dan tidak terpadu sehingga keberlanjutan dan mutu kegiatannya sulit dipertahankan dan ditingkatkan.
  2. Kegiatan, berarti bahwa di PKBM diselenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat setempat. Ini juga berarti bahwa PKBM selalu dinamis, kreatif dan produktif melakukan berbagai kegiatan-kegiatan yang positif bagi masyarakat setempat. Kegiatan-kegiatan inilah yang merupakan inti dari keberadaan PKBM. Kegiatan-kegiatan ini tentunya juga sangat tergantung pada konteks kebutuhan dan situasi kondisi masyarakat setempat.
  3. Belajar, berarti bahwa berbagai kegiatan yang diselenggarakan di PKBM haruslah merupakan kegiatan yang mampu memberikan terciptanya suatu proses transformasi dan peningkatan kapasitas serta perilaku anggota komunitas tersebut ke arah yang lebih positif. Belajar dapat dilakukan oleh setiap orang sepanjang hayatnya di setiap kesempatan. Belajar tidak hanya monopoli kaum muda, tetapi juga mulai dari bayi sampai pada orang-orang tua. Belajar juga dapat dilakukan dalam berbagai dimensi kehidupan. Belajar dapat dilakukan dalam kehidupan berkesenian, beragama, berolahraga, adat istiadat dan budaya, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Dimensi belajar seluas dimensi kehidupan itu sendiri. Dengan demikian PKBM merupakan suatu institusi terdepan yang langsung berada di tengah-tengah masyarakat yang mengelola dan mengimplementasikan konsep belajar sepanjang hayat atau Life Long Learning dan Life Long Education  serta pendidikan untuk semua atau Education For All. Penggunaan kata ‘belajar’ dalam PKBM dan bukan kata ‘pendidikan’ juga memiliki makna tersendiri. Belajar lebih menekankan pada inisiatif dan kemauan yang kuat serta kedewasaan seseorang untuk dengan sadar menghendaki untuk mengubah dirinya ke arah yang lebih baik.  Belajar lebih menekankan upaya-upaya warga belajar itu sendiri sedangkan peran sumber belajar atau pengajar lebih sebagai fasilitator sehingga lebih bersifat bottom up dan lebih berkesan non formal. Sedangkan pendidikan sebaliknya lebih bersifat top-down, dan lebih berkesan formal, inisiatif lebih banyak datang dari sumber belajar atau pengajar.
  4. Masyarakat, berarti bahwa PKBM adalah upaya bersama suatu masyarakat untuk memajukan dirinya sendiri secara bersama-sama sesuai dengan ukuran-ukuran idealisasi masyarakat itu sendiri akan makna kehidupan. Dengan demikian ciri-ciri suatu masyarakat akan sangat kental mewarnai suatu PKBM baik mewarnai tujuan-tujuannya, pilihan dan disain program dan kegiatan yang diselenggarakan, serta budaya yang dikembangkan dan dijiwai dalam kepemimpinan dan pengelolaan kelembagaannya. Hal ini juga berarti bahwa dalam suatu masyarakat yang heterogen PKBM akan lebih mencerminkan multikulturalisme sedangkan dalam masyarakat yang relatif lebih homogen maka PKBM juga akan lebih mencerminkan budaya khas masyarakat tersebut.  PKBM bukanlah suatu institusi yang dikelola secara personal, individual dan elitis. Dengan pemahaman ini tentunya akan lebih baik apabila PKBM tidak  merupakan institusi yang dimiliki oleh perorangan atau kelompok elitis tertentu dalam suatu masyarakat. Tetapi keberadaan penyelenggara maupun pengelola PKBM tentunya mencerminkan peran serta seluruh anggota masyarakat tersebut. Dalam situasi transisi ataupun situasi khusus tertentu peran perorangan atau tokoh-tokoh tertentu atau sekelompok anggota masyarakat tertentu dapat saja sangat dominan dalam penyelenggaraan dan pengelolaan PKBM demi efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan, prakteknya tidaklah menjadi kaku, dapat saja lebih fleksibel. Kata ‘masyarakat’ juga untuk membedakan secara dikotomis dengan pemerintah. Artinya seyogyanya PKBM itu milik masyarakat bukan milik pemerintah.  Kontribusi pemerintah adalah dalam mendukung dan memfasilitasi keberlangsungan dan pengembangan PKBM dapat saja jauh lebih besar porsinya dibandingkan kontribusi masyarakat dalam nilai kuantitas tetapi semuanya itu haruslah diposisikan dalam kerangka dukungan bukan mengambil-alih tanggungjawab masyarakat. Hal ini bukanlah mengarah pada seberapa besar proporsi kuantitas, tetapi lebih kepada semangat, kualitas dan komitmen. Tentu saja hal ini harus didasarkan pada konteks dan potensi masing masing masyarakat. Ini juga tidak berarti bahwa mustahil adanya pegawai negeri sipil bekerja dalam suatu PKBM baik sebagai tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, ataupun ini tidak berarti mustahil adanya alokasi anggaran pemerintah untuk membangun dan meningkatkan sarana dan prasarana PKBM serta dana operasional PKBM. Bahkan sebaliknya, tanggungjawab pemerintah dalam pembangunan dan pembinaan PKBM haruslah tercermin dalam alokasi-alokasi anggaran pemerintah yang signifikan dalam memperkuat penyelenggaraan dan mutu pogram PKBM namun keseluruhannya itu haruslah dikembangkan selaras dengan  dukungan bagi penguatan peran dan tanggungjawab masyarakat dalam menyelenggarakan dan mengelola PKBM.

Sumber : pedoman PKBM

 

GURUKU

DSCN0919

Guru dahulu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang mencetak para generasi-generasi penerus di negeri ini hingga saat ini, guru di zaman Umar Bakri selalu identik dengan pengorbanan dan pengabdian sampai tiba di era reformasi guru bergeser menjadi sebuah profesi kehormatan meskipun tidak semua guru merasakan makna dari profesi kehormatan tersebut. Guru mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui sertifikasi dan kenaikan gaji,dan tunjangan-tunjangan lainnya sehingga profesi gurupun mendapat pandangan yang lebih baik ditengah-tengah masyarakat.

Pengorbanan dan pengabdian menjadi bergeser menjadi kehormatan, ada beberapa kalangan yang menyampaikan bahwa lagu hyme guru tidak perlu lagi diperdengarkan karena guru tidak lagi sebagai pengorbanan tanpa mereka tahu bahwa masih banyak guru-guru yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan kehormatan atas profesinya. Dalam sebuah acara televisi ada seorang guru yang hanya mendapatkan Rp. 50.000 sebulan dalam menjalankan profesinya menjadi seorang guru. Dalam keseharian yang pernah penulis saksikan sendiri dimana guru menjadi tukang ojek dan pekerja kebun orang untuk memenuhi kebutuhan mereka, lalu masih tepatkah jika dikatakan bahwa guru bukanlah pengorbanan?

Mungkin sebagian orang mengangap hal ini merupakan hal yang sepele, tidak penting dan lain sebagainya tetapi disisi lain ada guru yang menjerit dalam pengorbanannya mendidik anak bangsa. Dimata penulis dalam menjalankan profesinya guru tetaplah membutuhkan pengorbanan dan pengabdian, karena menjadi guru bukanlah profesi yang mudah atau sama seperti profesi-profesi lainnya karena menjadi guru dibutuhkan hati yang siap untuk berkorban dan mengabdi.

Kita harus ingat kembali bahwa guru bukanlah profesi semata tetapi guru adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa, jika guru gagal dalam membentuk karakter anak didiknya maka dampaknya sangat luas yaitu masa depan bangsa, sangat berbeda dengan pekerja-pekerja yang lain dimana jika terjadi kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja hanya berdampak pada lingkungan kerjanya saja dengan kata lain guru bukan hanya sekedar guru tetapi mereka adalah bagian dari pencetak generasi bangsa yang akan datang. Ditangan guru masa depan bangsa ini dipertaruhkan meskipun banyak sekali orang-orang yang tidak memperdulikan hal tersebut termasuk pejabat-pejabat publik sendiri yang cuma menilai hanya dari satu sisi saja yaitu materi padahal dengan beban yang diberikan kepada guru seharusnya tidak semata-mata hanya berupa materi tetapi juga tecnical dan soft skill yang lebih baik dalam mendidik.

Tidak dapat dipungkiri belum ada penelitian yang menyatakan bahwa program sertifikasi meningkatkan kualitas seorang guru, Ujian kompetensi Guru meningkatkan profesionalisme guru dan belum ada hal yang membuktikan bahwa kompetensi guru kita telah sama seperti guru-guru di negara lain. Dari berbagai hal tersebut, masih banyak tugas negara untuk meningkatkan profesi guru menjadi profesi yang lebih terhormat dan hebat, bukan profesi yang dipandang sebelah mata, profesi yang menjadi kebanggaan orang tua untuk anaknya, dan negara menjadi bangga karena memiliki guru yang hebat. SELAMAT HARI GURU.(PEB)

 

PEMBELAJARAN DIGITAL

Gambar untuk e-learning

Tidak terasa akhir tahun 2015 sudah dekat dan sesaat lagi kita akan memasuki Masyakarat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan resmi berlaku pada 31 Desember 2015 sesuai dengan kesepakatan pada KTT ASEAN yang berlangsung di Malaysia pada tanggal 20 – 22 November 2015. Dengan berlakunya MEA berarti tenaga kerja asing akan datang ke negara kita dalam segala bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan meliputi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan baik formal maupun nonformal. Yang menjadi pertanyaan kita saat ini apakah tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di kita saat ini sudah siap bersaing dengan mereka? Kemampuan pendidik dan tenaga pendidik kita mungkin sama dengan negara-negara lain yang ada di ASEAN dalam hal melakukan proses pembelajaran tetapi saat ini kita dihadapkan pada bergesernya paradigma dalam dunia pendidikan dimana saat ini pendidikan sudah bergeser pada dunia pendidikan berbasis digital era abad 21 yang cenderung berbasis pada dunia digital atau lebih dikenal dengan E-Learning .

Continue reading “PEMBELAJARAN DIGITAL”

Revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Sebagai perbandingan perlu dicatat bahwa setelah jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki dan berakhirnya Perang Dunia ke II, pemerintah Jepang menganggap rekonstruksi pendidikan melalui sekolah atau pendidikan anak-anak tidaklah cukup untuk mengembalikan kejayaan Jepang. Kemudian diputuskan untuk membangun sebuah sistem pendidikan orang dewasa (pendidikan masyarakat) melalui Kominkan (Citizen’s Public Hall) untuk mengakomodasikan, menyatukan, dan melayani seluruh kebutuhan pendidikan bagi masyarakatnya, terutama layanan keterampilan bagi orang dewasa. Saat ini terdapat 17.143 Kominkan, melebihi perpustakaan umum (2.979) dan Sekolah Menengah Pertama (10.915). Kominkan dianggap berperan secara berhasil dalam memberdayakan masyarakat dan berkontribusi sangat signifikan dalam rekonstruksi pendidikan Jepang pada masa restorasi hingga saat ini.

Continue reading “Revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)”

MERUBAH WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA

Salah satu senjata utama merubah wajah sebuah bangsa tentunya melalui pendidikan karena dengan pendidikanlah sumber daya manusia dapat diciptakan untuk merubah bangsa dimasa yang akan datang. Pendidikan disini adalah yang mendidik generasi penerus bangsa kedepannya dimana generasi akan berganti menjadi generasi yang baru secara terus menerus.

Nusantara ini tentunya akan menjadi bangsa yang luar biasa kalau sumber daya manusianya menjadi manusia terdidik dan mendidik yang siap membangun bangsa bukan mengerogoti bangsa. Tentunya Nusantara tidak akan terpuruk seperti saat ini dimana banyak kasus korupsi,narkoba yang merajela,partai politik saling sikut berebut kekuasaan, bencana asap semakin hari semakin dahsyat, dan masih banyak hal lain yang sungguh disayangkan terjadi disebuah bangsa yang luar biasa ini.

Continue reading “MERUBAH WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA”