GURUKU SAYANG

Beberapa bulan terakhir ini, negeri ini diguncang dengan berbagai berita akan dipenjarakannya para guru karena mencubit muridnya. Bahkan sudah ada seorang guru duduk sebagai terdakwa dalam sebuah persidangan karena mencubit siswanya akibat dari sang murid tidak melakukan shalat seperti budaya yang berlaku di sekolah. Beragam komentar di mediapun bermunculan akan tindakan para orang tua yang melaporkan sang guru ke pihak yang berwajib karena tindakan yang dilakukan sang guru.

Hal ini menjadi fenomena tersendiri bagi bangsa ini khususnya dalam dunia pendidikan dimana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyampaikan bahwa sekolah seharusnya jauh dari tindakan kekerasan dan seharusnya lembaga pendidikan menjadi tempat yang menyenangkan bagi seorang anak. Sebagai seorang pendidik saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Menteri tersebut karena bagaimanapun pendidikan dengan kekerasan tidaklah baik dalam pertumbuhan pendidikan seorang anak. Pertanyaannya, apakah hukuman (mencubit) sebagai konsekuensi tindakan akibat pelanggaran yang dilakukan oleh seorang murid dapat dikatakan sebagai tindakan kekerasan?

Seorang guru rasanya tidak mungkin langsung mencubit muridnya tanpa adanya alasan yang jelas? Murid tidak akan tahu mana yang benar dan mana yang salah jika kita membiarkan semua tindakan murid tersebut kita biarkan begitu saja meskipun hal tersebut salah. Orang tua seharusnya berpikir ke depan, jika anak terus dimanja tanpa ada aturan yang jelas kelak dia tidak akan tahu mana tindakan yang benar dan mana tindakan yang salah. Untuk memberitahukan mana tindakan yang benar dan salah tentunya tidak bisa kita lakukan dengan berdiam diri dan membiarkan seorang anak melakukan segala sesuatu dengan semaunya tetapi harus ada penghargaan dan hukuman yang jelas supaya sang murid dapat mengetahui tindakan yang benar dapat boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan secara lebih jelas.

Hukuman disini bukan berarti guru membenci muridnya atau pelampiasan dari kekesalan dari sang guru tetapi hukuman yang diberikan seorang guru adalah sebagai bagian dari mendidik murid-muridnya supaya mereka tahu mana yang salah dan mana yang benar sehingga jika kelak mereka dewasa dapat tumbuh dalam kedewasaan yang benar-benar matang. Tidak hanya mereka tahu mana yang benar dan salah tetapi dapat menyampaikan ke lingkungan sekitarnya untuk mencegah tindakan yang salah dan menghargai tindakan kebenaran yang dilakukan.

Negeri ini hancur akibat dari tidak beraninya seseorang untuk memberikan teguran akan sebuah tindakan yang salah, lihat saja pada masa orde baru. Apakah ada yang berani memberitahukan tindakan yang salah dari sang penguasa? Tidak, sehingga bertahun-tahun tindakan yang salah tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada yang peduli dan ketika Tuhan menegur bangsa ini melalui krisis ekonomi dan sang penguasa mundur, barulah semua berkoar-koar akan kesalahan yang dilakukan sang penguasa dan hasilnya tentunya sudah terlambat. Negeri ini sudah terpuruk jauh karena generasi mudanya tidak terdidik untuk mengungkapkan mana yang salah dan benar dan takut untuk menerima hukuman berupa cubitan. (PEB)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s