GURU YANG HEBAT GURU YANG MAU BELAJAR

Dunia pendidikan merupakan dunia yang dinamis, dunia dimana setiap hari bertumbuh ilmu-ilmu baru di sekitar kita. Sebuah penelitian menyatakan bahwa setiap hari ada 3000 artikel muncul di internet yang artinya setiap hari ada 3000 ilmu baru yang hadir di tengah-tengah dunia. Guru sebagai salah satu pilar dari penyebaran ilmu melalui peserta didiknya tentunya dituntut untuk dapat mengupdate dari ilmu-ilmu yang dimiliki.

Seringkali guru sudah merasa bahwa ilmu yang dimiliki sudah cukup karena materi yang diajarkan juga sama dari tahun ke tahun, bersumber dari buku yang sama, LKS (Lembar Kerja Siswa) yang sama sehingga tidak perlu lagi repot-repot mengupdate ilmu yang sudah dimiliki padahal tanpa disadari ilmu yang dimiliki dapat lebih dikembangkan sehingga ilmu yang disampaikan ke siswanya dapat lebih update dan tidak ketinggalan zaman. Jika memang materi yang sama tentunya penyampaian materinya yang perlu dirubah setiap kali seorang guru melakukan proses pembelajaran sehingga siswa dan guru tidak merasa jenuh dalam belajar hal yang sama.

Materi yang update akan membawa pemikiran yang baru dari siswa, tentunya seorang guru yang hebat tidak ingin dari tahun ke tahun menghasilkan siswa dengan kemampuan yang sama tetapi guru yang hebat akan berusaha jika setiap siswa yang dihasilkan dari kelasnya dapat terus mengalami peningkatan. Sebagai contoh jika lulusan tahun sebelumnya belum mampu lulus dari ujian masuk perguruan tinggi negeri tentunya tahun selanjutnya guru akan berusaha supaya siswanya ada yang berhasil masuk pada perguruan tinggi negeri dan tentunya tidak bisa dilakukan dengan cara dan materi yang sama.

Saat ini pemerintah juga sedang gencar-gencarnya dalam mengupdate pengetahuan para guru supaya kemampuan/skill seorang dapat lebih meningkat. Salah satunya dengan hadirnya “guru pembelajar” yang dicetuskan dalam masa kepemimpinan Bapak Anis Baswedan. Dalam program ini guru dituntut untuk dapat aktif dalam belajar dan terus belajar supaya kemampuan guru dapat terus meningkat dan lebih baik. Melalui program ini Indonesia ingin menunjukkan bahwa guru-guru di Indonesia adalah guru yang hebat yaitu guru yang mau belajar sepanjang hayat. (PEB)

 

GURU DAN TEKNOLOGI

tacher

Seorang teman guru bercerita jika dia dikomplain oleh orang tua siswa karena beliau menggunakan sebuah aplikasi dalam menyampaikan materi ke siswanya. Orang tua menyampaikan supaya guru tidak memberikan PR (pekerjaan rumah) kepada siswa dengan menggunakan gadget atau berkaitan dengan penggunaan internet. Tentunya hal ini sebenarnya bukan hal yang baru karena banyak orang tua yang sampai saat ini masih berpikir bahwa teknologi tidak dapat dilibatkan dalam dunia pendidikan. Orang tua masih banyak beranggapan bahwa di tangan anak, teknologi hanya sebatas main game, medsos dan hal –hal lain yang tidak berkaitan dengan pendidikan.

Orang tua terkadang tidak menyadari bahwa sebenarnya dunia pendidikan tidak dapat lepas dari sebuah teknologi. Dulu seorang guru mengajar dengan sabak (alat tulis yang terbuat dari batu) sekarang dengan komputer dan dapat dilakukan dalam dunia maya. Dalam dunia maya dapat dibentuk sebuah kelas sehingga interaksi antara guru dengan siswa tidak hanya sebatas ruangan dalam kelas tetapi dapat berjalan sepanjang waktu. Proses pembelajaran saat ini dapat dilakukan kapan saja melalui dunia maya termasuk dalam melakukan tes/ulangan kepada siswa. Banyak sekali manfaat yang didapat dari penggunakan teknologi dalam dunia pendidikan dan perkembangan aplikasi dalam dunia pendidikan terus berkembang dan semakin mempermudah proses dalam melakukan pembelajaran antara siswa dengan gurunya.

Munculnya pernyataan orang tua kepada rekan guru yang disampaikan diatas dimungkinkan karena beberapa hal seperti :

  • Orang tua belum memahami penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan dan belum banyak mengetahui akan fungsi penerapan teknologi dalam dunia pendidikan.
  • Guru mungkin tidak melibatkan orang tua dalam kelas mayanya karena pada umumnya setiap aplikasi yang digunakan dalam dunia pendidikan dapat dikoneksikan dengan orang tua, sehingga orang tua dapat melihat apa yang dipelajari anak sampai perkembangan nilai dan kemampuan anak dalam bidang akademik.
  • Sosialisasi kepada orang tua yang belum maksimal. Masih banyak orang tua walaupun sehari-hari tidak lepas dari perkembangan teknologi tetapi terkejut jika teknologi diterapkan dalam dunia pendidikan
  • Kurangnya kepercayaan dari orang tua kepada anaknya dalam menggunakan teknologi. Banyak orang tua yang curiga anaknya akan menyalahgunakan teknologi, bukan digunakan untuk belajar tetapi digunakan untuk bermain-main.

Perkembangan dunia teknologi itu begitu cepat dalam seluruh sendi kehidupan masyakarat termasuk dalam dunia pendidikan jadi bagaimanapun juga teknologi tidak akan mungkin dilepaskan dari dunia pendidikan. Kita harus ingat bahwa hadirnya teknologi adalah untuk mempermudah hidup manusia bukan mempersulit, jika ada berbagai kasus yang muncul dalam penggunaan teknologi rasanya kurang tepat jika langsung menyalahkan teknologi karena bagaimanapun teknologi hanya sebagai tools dan yang menggunakan adalah manusia, jadi alangkah lebih tepat jika manusianya yang didik untuk menggunakan teknologi secara tepat tanpa harus menjauhkan teknologi dalam bidang kehidupannya.

Seharusnya Guru tidak perlu takut dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran karena abad 21 menuntut guru untuk mampu mengajar dengan penggunaan teknologi. Sosialisasi dan melibatkan orang tua serta keterbukaan orang tua merupakan kunci keberhasilan dalam penerapan teknologi dalam dunia pendidikan sehingga akan menghasilkan ouput pendidikan yang lebih baik. (PEB)

GURU MASA KINI

training-aoc

Tantangan guru saat ini memang sangat berat khususnya dengan perubahan generasi yang begitu cepat atau yang disebut dengan generasi Z, perkembangan teknologi yang begitu cepat ternyata membawa perubahan yang cukup deras dalam segala bidang termasuk dalam perkembangan seorang anak.

Ada seorang rekan guru yang bilang, dulu waktu saya pertama mengajar saya tidak pernah mengurus cara berpakaian anak, kuku mereka, dan sikap mereka. Saya datang ke sekolah dan langsung melaksanakan proses pembelajaran seperti yang sudah ditentunkan oleh pihak sekolah berdasarkan kurikulum yang berlaku di sekolah. Sekarang saya harus memperhatikan kerapihan cara berpakaian, sikap, termasuk ucapan mereka baik dengan guru ataupun dengan sesama mereka yang tentunya setiap anak memiliki pola perilaku yang sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Guru yang semula menjadi satu-satunya sumber ilmu dari murid tentunya perlahan mulai bergeser dikarenakan murid sekarang bisa begitu dengan cepat menemukan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala mereka. Zamannya Pak Habibie waktu sekolah harus membaca puluhan buku untuk menemukan jawaban-jawaban yang ada di kepalanya, sedangkan saat ini tinggal klik di google semua pertanyaan dapat dijawab. Terkadang seorang murid lebih cepat mendapatkan jawaban daripada gurunya. Tanpa disadari hal tersebut merupakan salah satu pemicu kurang dihargainya seorang guru ketika berada di sekolah apalagi di tingkat menengah sampai atas.

Hal ini bisa kita lihat dari kasus-kasus yang terjadi antara guru dengan murid. Di tingkat sekolah dasar seorang murid masih memberikan rasa hormat yang tinggi kepada gurunya karena anak-anak tersebut merasa bahwa ilmu guru mereka masih lebih tinggi dan hebat dibandingkan mereka tetapi coba kita lihat di tingkat kelas menengah dan atas, teknologi yang digunakan oleh murid jauh lebih hebat dibandingkan yang digunakan oleh para murid.

Disadari atau tidak tentunya seorang guru harus siap dalam menghadapi generasi ini, dan menurut saya ada beberapa hal yang dapat dilakukan :

  1. Update ilmu yang ada

Ilmu pengetahuan itu selalu berkembang dan takkan pernah mati, seorang guru harus mengetahui ilmu-ilmu               yang terupdate saat ini khususnya mata pelajaran yang diajari. Beragam sumber yang dapat digunakan untuk             mengupdate ilmu seperti membaca buku, internet,seminar dan lain sebagainya.

  1. Perbanyak membaca

Memang harus diakui salah satu kelemahan kita sebagai guru di Indonesia adalah kurangnya membaca, untuk           menghadapi generasi Z perbanyaklah membaca karena secara langsung maupun tidak langsung dengan                         membaca akan mengupdate isi yang ada di kepala kita sehingga akan lebih memudahkan kita dalam                               menghadapi generasi Z.

  1. Perkaya metode belajar

Rubahlah metode belajar dengan ceramah, masih banyak metode-metode lain yang dapat kita gunakan untuk             mengajar bahkan kalau perlu kita harus menciptakan metode-metode belajar yang baru sehingga murid-murid           kita tidak jenuh dengan kita dengan metode yang sama selama tiga tahun.

  1. Sharing dengan rekan guru

Berbagi pengalaman akan memberikan danpak yang baik bagi kita, dengan sharing dengan guru lain maka kita           akan belajar hal baru yang dapat membantu kita dalam menyampaikan materi kita kepada murid-murid kita,             hal ini dapat dilakukan baik secara formal seperti pertemuan guru, pelatihan guru, MGMP maupun informal               misalnya bertemu dengan guru lain diluar jam sekolah sambil minum kopi di suatu tempat, ataupun melalui               media sosial.

  1. Guru yang menginspirasi

Menjadi guru di zaman sekarang ini tidak hanya mampu mengajar tetapi harus mampu menginspirasi murid-              muridnya menjadi manusia yang lebih baik, guru yang hanya bisa mengajar akan ditinggalkan muridnya tetapi            guru yang bisa menginspirasi akan dicintai dan dihati para muridnya.

  1. Belajar kembali

Janganlah pernah berhenti untuk belajar menjadi guru yang baik karena menjadi guru yang baik tidak aka                   nada indicator yang pasti karena hal tersebut menyangkut selera manusia yang diwakilkan oleh para murid-                 murid kita di sekolah, kita harus ingat sebelum menjadi guru yang hebat kita harus jadi murid yang hebat.

  1. Latihan berkomunikasi

Komunikasi merupakan salah satu senjata utama dari seorang guru karena itu belajarlah akan ilmu-ilmu                       komunikasi yang efektif khususnya jika kita berhadapan dengan murid generasi Z dan orang tua generasi Z                 yang tidak mau anaknya dicubit.

  1. Cintai profesi guru

Guru merupakan profesi yang terhormat, jika anda tidak bisa mencintai profesi anda sebagai seorang guru                   sebaiknya berhenti sekarang menjadi guru,Jika anda mencintai profesi guru maka hal apapun yang ada                         dihadapan anda akan dapat diselesaikan dengan baik dan tidak akan menimbulkan masalah baru. (PEB)