KURIKULUM oh KURIKULUM

Sejak pergantian menteri yang mengejutkan banyak orang yaitu menteri pendidikan dan kebudayan Anies Baswedan di resfhule kabinet jilid 2, masalah kurikulum ini kembali menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat dan banyak orang yang memberikan asumsi mengenai pergantian dari menteri pintar dan santun tersebut.  Salah satu faktor mengapa Presiden mengganti beliau adalah belum adanya kejelasan mengenai kurikulum 2013.

Dalam kalangan dunia pendidikan sendiri banyak yang menduga-duga hal seperti itu, tetapi bagi saya pribadi berpendapat lain. Kurikulum 2013 sebenarnya sudah jelas, Kurikulum tersebut akan diberlakukan secara menyeluruh di Tahun 2019 sambil menunggu revisi dan mempersiapkan sekolah termasuk guru untuk siap dalam melaksanakan kurikulum 2013 yang luar biasa tersebut.

Sejak awal Anies Baswedan sudah menyatakan bahwa kurikulum 2013 belum siap untuk diberlakukan mengingat masih banyaknya hal-hal yang perlu dibenahi sebelum kurikulum tersebut digunakan termasuk dalam hal sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan kurikulum tersebut. Dari perbincangan penulis dengan beberapa orang pelaku pendidikan juga menyampaikan banyak keluhan-keluhan ketika sekolah mereka diminta bahkan diharuskan dalam melaksanakan kurikulum 2013 tersebut yang diklaim sebagai kurikulum yang bagus oleh menteri sebelumnya.

Sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 bahwa Kurikulum  merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Jika dilihat dari pengertiaannya sebenarnya kurikulum bukannlah hal yang mutlak sebagai penentu kualitas pendidikan karena kurikulum sebenarnya hanya berupa rencana dan pengaturan untuk mencapai tujuan dari pendidikan yang dilaksanakan. Sesungguhnya sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan diberikan kebebasan dalam memilih kurikulumnya sendiri dan jangan dipaksakan karena masing-masing sekolah memiliki tujuan yang berbeda antara satu dengan yang lain sesuai dengan situasi dan kondisi dimana sekolah tersebut berada.

Rasanya tidak tepat jika kita menyamakan kurikulum kurikulum di Papua kita samakan dengan di Jakarta karena tentunya sarana dan prasarana serta pendidiknya jauh berbeda. Di Jakarta begitu banyak guru sedangkan di Papua ada yang mau menjadi guru saja sudah luar biasa. Begitupun dengan daerah-daerah lain tentunya tidak akan sama sehingga jangan mengharapkan output yang sama.

Selama ini sekolah seolah-olah dipaksa untuk mengikuti kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah termasuk sekolah swasta. Sehingga muncul pertanyaan, jika kurikulum di sekolah swasta harus mengikuti pemerintah lalu mengapa perlakukan guru swasta dengan guru negeri berbeda? Guru sekolah di negeri diangkat sebagai PNS sedangkan guru swasta tetap dengan label guru swasta yang pasti gaji dan tunjangan yang diterima juga tentunya berbeda.

Biarkan sekolah memilih kurikulumnya sendiri karena pada akhirnya jika ingin memetakan hasil dari kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah sudah ada Ujian Nasional yang setiap tahun dilaksanakan jadi sudah saatnya negeri ini memberikan kebebasan/otonomi bagi sekolah-sekolah, kita harus ingat bukan kurikulum yang menjadikan sebuah proses pendidikan tersebut berhasil tetapi guru. Guru yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan sebuah kurikulum karena percuma pemerintah membuat kurikulum yang hebat tetapi tidak ada guru yang hebat dalam melaksanakan kurikulum tersebut. (PEB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s