KURIKULUM PENDIDIKAN NONFORMAL

Sesuai dengan undang-undang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) No. 20 Tahun 2003 dikatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Saat ini, dalam dunia pendidikan formal pada tahun ajaran yang selanjutnya 2017/2018 menurut informasi yang penulis terima akan menggunakan kurikulum 2013 versi revisi. Tentunya dengan berlakunya kurikulum ini akan sedikit memberikan kejelasan akan pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah setelah sekian lama dirundung oleh ketidak jelasan akan kurikulum yang akan digunanakan.

Jika di pendidikan formal sudah jelas, bagaimana pendidikan nonformal? Apakah kurikulum yang akan digunakan sudah jelas? Akankah mengikuti pendidikan formal dengan keterbatasan yang dimiliki?  Sejauh ini penulis belum melihat kejelasan dari kurikulum pendidikan yang akan digunakan oleh pendidikan nonformal tetapi menurut penulis, kurikulum pendidikan nonformal harus berdiri sendiri. Selama ini sesuai dengan pengalaman penulis pada pendidikan nonformal hampir semua sama persis dengan pendidikan formal karena tujuannya sama yaitu lulus ujian akhir (Ujian Nasional/Ujian Pendidikan Kesetaraan) untuk mendapatkan ijasah.

Pendidikan Non formal seyogianya memiliki kurikulum tersendiri, kurikulum yang berbeda dengan pendidikan formal. Kurikulum pendidikan non formal sebaiknya diarahkan pada pendidikan yang mengarahkan akan kebutuhan dari warga belajaranya dan tidak dapat dipukul rata layaknya pendidikan formal. Dalam kurikulum pendidikan non formal diarahkan pada implementasi kebutuhan mereka dalam meningkatkan life skill mereka. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa latar belakang warga belajar yang ada di satuan pendidikan nonformal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Rumah Belajar, Yayasan, kursus, dll berbeda-beda sesuai komunitas dari satuan pendidikan tersebut berdiri.

Sebagai contoh jika PKBM tersebut berada dalam komunitas pertanian maka kurikulum mereka seharusnya berisi bagaimana meningkatkan skill yang telah mereka miliki sehingga hasil pertanian mereka dapat lebih baik. Jika komunitas PKBM tersebut berdiri di tengah perkotaan seharusnya diberikan kurikulum yang berisikan skill yang dapat digunakan untuk dapat bertahan dalam kehidupan mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan mengasah talenta yang telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka seperti jika dia memiliki bakat musik, berikan kurikulum yang dapat meningkatkan bakatnya tersebut sehingga jika dia menjadi seorang pengamen maka dia akan bernyanyi atau bermain musik dengan lebih baik. Syukur-syukur bisa menjadi penyanyi terkenal.

Pada dasarnya kurikulum yang digunakan oleh pendidikan nonformal harus sesuai dengan kebutuhan dari warga belajar. Warga belajar tidak membutuhkan teori-teori fisika, kimia, dan lain sebagainya karena mereka sudah stres dalam memperjuangkan kehidupannnya ditambah lagi dengan teori-teori tersebut maka tujuan pendidikan tidak akan tercapai. Selain itu kurikulum difokuskan pada skill dari warga belajar. Skill disini jangan hanya dipandang sebagai keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan uang tetapi harus bermakna luas.  Selama ini pemerintah hanya melihat sebatas kemampuan warga belajar dalam mencari uang tetapi sebenarnya skill itu lebih dari itu seperti kemampuan berbahasa, memahami toleransi, belajar saling menghormati, belajar berdemokrasi, menghargai perbedaan, belajar mengecek kebenaran sebuah berita, etika bermedia sosial, belajar berlalu lintas karena selama ini kita dituntut untuk lulus ujian jika kita ingin berkendara tetapi tidak ada pelajaran yang mengarah kesana dan lain sebagainya yang sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat.

Mungkin hal ini merupakan hal sepele, tetapi lihat dampaknya di sekeliling kita. Hampir setiap hari penulis melihat pelanggaran rambu lalu lintas, betapa mudahnya masyarakat tersulut emosinya ketika membaca sebuah berita yang kebenarannya belum jelas, caci maki di media sosial, berita hoak dari beberapa website dan sebagainya. Untuk saat ini pendidikan formal belum mampu untuk diarahkan kesana karena sudah memiliki kurikulum yang dapat dikatakan sudah melekat dengan isinya yang berbau-bau sains dan pendidikan nonformallah yang memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam bidang itu tentunya dengan membuat kurikulum tersendiri dan tidak tergantung hanya pada kurikulum pemerintah semata. (PEB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s