KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara kembali mencoreng dunia pendidikan di Indonesia. Ini sudah terjadi yang ketiga kali terjadi di STIP dan tentunya hal ini menunjukkan bahwa kekerasan di STIP belumlah hilang dan air mata orang tua kembali menetes melihat anak pulang tak bernyawa dan orang tua pelaku tertunduk lesu dan malu melihat anak mereka mengenakan seragam tahanan polisi sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatan mereka.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekolah kedinasan sering diwarnai tindakan kekerasan atau sering disebut pendidikan semi militer dengan harapan taruna akan menjadi manusia yang tangguh ketika mereka benar-benar telah terjun dalam dunia pekerjaan mereka sesungguhnya. Sudah beberapa kali juga terjadi kekerasan di beberapa sekolah kedinasan yang ada di Nusantara ini dan beberapa sekolah kedinasan yang berada dibawah kementerian juga menyatakan bahwa mereka sudah membuat SOP baru dalam menghindari tindakan kekerasan di dalam lingkungan kampus termasuk Kementerian Perhubungan yang membawahi STIP.

Tewasnya Taruna di STIP yang baru-baru ini terjadi merupakan bukti bahwa tidak sepernuhnya tindakan kekerasan tersebut hilang dan hal ini menjadi sebuah bukti bahwa SOP dan strategi yang dibuat Kementerian Perhubungan telah gagal dalam melakukan pencegahan tindakan kekerasan dalam lingkungan kampus STIP.

Tindakan kekerasan sepertinya sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari STIP, oleh karena itu seharusnya dilakukan tindakan tegas oleh kementerian yang membawahi STIP. Tidak cukup dengan mencopot kepala STIP tetapi harus membuat tindakan tegas dengan memutus rantai kekerasan di dunia STIP dengan menghentikan penerimaan taruna baru hingga semua taruna yang ada sekarang lulus. Taruna baru yang diterima harus diberikan doktrin baru untuk tidak menggunakan kekerasan dalam mendidik mental tangguh seorang taruna termasuk dalam memberikan hukuman jika seorang taruna melakukan kesalahan. Mental dapat didik dengan metode-metode baru yang lebih positif termasuk dengan mendidik kembali paran tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam mempersiapkan taruna yang hebat dan tangguh tanpa diikuti dengan kekerasan.

Kita ketahui bersama bahawa taruna-taruna yang ada di STIP merupakan pemudah-pemuda pilihan dan mengikuti seleksi yang ketat ketika masuk STIP, alangkah sayangnya jika mereka kehilangan nyawa atau menjadi seorang terpidana ketika mereka menempuh pendidikan di lingkungan kampus padahal di depan mereka ada masa depan yang cerah menunggu mereka. (PEB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s