DEBAT GUBERNUR

Hotel Bidakara di tanggal 13 Januari 2017 menjadi saksi bisu pelaksanaan debat calon gubernur putaran pertama, diikuti ketiga pasangan calon dan dipandu oleh Ira Koesno memang jika diikuti cukup menarik bahkan bagi saya, ini adalah Debat Gubernur paling menarik di Tahun 2017 ini karena begitu banyak menyedot perhatian masyarakat di Nusantara ini. Hal ini terlihat dari komentar-komentar para netizen di dunia maya yang memberikan komentar padahal mereka punya hak suara juga tidak. Tidak heran jika banyak pengamat yang menyatakan bahwa Jakarta menjadi barometer dari seluruh Pilkada yang dilaksanakan di negeri ini.

Bagi saya pribadi, dari Pilkada tersebut ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya :

  1. Ketiga calon memiliki latar belakang yang berbeda-beda, dari militer, birokrat, dan pendidik. Tentunya hal ini tidak dapat dilepaskan karena bagaimanapun para pemilih akan melihat hal tersebut. Selain itu, para Cawagub juga memiliki latar belakang yang beragam dari birokrat dan pengusaha.
  2. Menurut saya pribadi, calon dari militer agak sedikit mengecewakan karena setahu saya jika seseorang masuk dalam Akademi Militer maka mereka disiapkan menjadi seorang pemimpin dan sebagai seorang pemimpin harus mampu menyampaikan gagasan dan idenya secara gamblang sehingga orang-orang yang dipimpinnya memahami dan mampu mengimplementasikan ide dan gagasan dari sang pemimpin. Paslon no 1 yang notabene adalah lulusan dari Militer seharusnya dapat tampil lebih baik, tidak terlihat gugup, terkesan menghafal dan sepertinya tidak menguasai permasalahan yang akan diperdebatkan. Cawagubnya yang seyogianya berasal dari Birokrasi murni, juga tidak mampu mengimbangi sang Cagub dalam menyampaikan ide dan gagasan mereka bahkan terkesan seperti membaca puisi.
  3. Calan No. 2 yang merupakan petahana bahkan saya bisa sebut sebagai birokrat karena pengalaman mereka yang mumpuni dalam memimpin Jakarta dan hasilnya sangat jelas dilihat dan dirasakan oleh Jakarta dalam Debat terlihat begitu piawai dalam debat tersebut. Ini jelas terlihat jika lawan mereka tidak banyak menyingung masalah data-data konkrit seperti debat sebelumnya yang dilaksanakan oleh salah satu TV swasta.
  4. Anies & Sandi sebagai kandidat no 3 yang berlatar belakang akademisi dan pengusaha dalam debat mengebu-gebu dan bersemangat dalam memaparkan programnya terlihat seperti seorang motivator dan cukup banyak menyingung masalah pendidikan, mungkin karena beliau mantan menteri pendidikan jadi merasa paling menguasai masalah pendidikan sehingga muncullah KJP (Kartu Jakarta Pintar) Plus padahal semua itu sudah dilaksanakan oleh Gubernur petahana. Satu hal yang agak sedikit mengecewakan bagi saya adalah dalam debat tersebut Anies Baswedan tampil sebagai orang berbeda atau dapat dikatakan sama seperti calon gubernur yang sedang bertarung pada umumnya, padahal saya pribadi mengharapkan apa yang diucapkan oleh Anies selama ini menjadi kenyataan yaitu Orang baik maju dalam dunia politik sehingga politik itu menjadi baik tetapi disini terlihat politik adalah politik.

Masih ada debat-debat selanjutnya, harapan saya adalah debat ini akan memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat dan tentunya hari nurani masyarakat bebas memilih dari ketiga kandidat yang ada. (PEB)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s