SAYA MEMPUNYAI MURID YANG BANDEL

Pertanyaan:

Saya seorang guru SD yang memiliki seorang murid yang sangat bandel dan sering membuat ribut di kelas. Teman-temanya umumnya takut karena murid itu badanya gempal (kekar). Pada suatu hari, karena jengkel,murid itu terpaksa saya tempeleng. Namun tempelengan saya itu rupanya kurang mempan. Orang tuanyapun ketika saya hubungi rupanya telah kewalahan. Mereka malah menyerahkan 100% kepada saya. Katanya mau diapakan terserah Pak Guru. Terpaksa saya membuka-buka kembali buku pendidikan dan ilmu jiwa. Untuk tambahan pengetahuan dan kecapakan mendidik, mohon bantuan bapak Suhartin bagaimana menurut bapak cara-cara menangani murid saya tersebut.

(SWD,Solo)

Membaca surat pak SWD, saya jadi ingat ketika saya menjadi guru. Pada waktu itu, saya mempunyai murid yang kelewat bandel. Pernah satu kelas murid tidak berani masuk kelas karena jika ada yang masuk akan ditempeleng olehnya. Saya dapat tugas untuk “menggarap“ anak tersebut. Menerima tugas yang berat tersebut, saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal karena bingung. Berhari-hari saya memikirkan teknik apa yang tepat saya gunakan. Akhirnya, saya memutuskan mengajak anak tersebut menonton bioskop dan jajan di restoran. Kebetulan, memang anak tersebut tidak punya masalah apa-apa dengan saya.

Pada suatu sore yang telah kami tentukan, anak tersebut saya ajak nonton bioskop dan setelah menonton saya ajak ke restoran. Sambil makan di restoran inilah saya berdiskusi dengannya. Dalam diskusi ternyata terungkap bahwa tindakannya selama ini sebagai protes terhadapa kebijaksanaan kepala sekolah yang dinilainya tidak betul dan tidak adil.

Setelah saya terangkan maksud kepala sekolah yang sebenarnya baik, ia dapat menerimanya. Ternyata,terdapat salah pengertian antara kepala sekolah dan segolongan murid yang ada dibawah pengaruhnya. Hasil diskusi saya dengan anak tersebut saya laporkan kepada kepala sekolah. Hasilnya semua menjadi beres.

Dalam dunia pendidikan, teknik yang saya gunakan itu disebut teknik konseling. Selain itu, menurut W.D.E Matthews,dkk dalam bukunya yang berjudul School and classroom Management, ada teknik-teknik lain untuk menghadapi anak bandel, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengembangkan tanggung jawab. Kadang-kadang anak menjadi bandel atau nakal semata-mata hanya karena ingin diperhatikan. Oleh karena itu,penanganannya dapat dilakukan dengan cara memberinya tanggung jawab. Sebagi contoh, ia diberi tanggung jawab atas kebersihan di kelas, mengatur barisan, dan sebagainya.
  2. Tidak dibenarkan oleh anak-anak yang lain. Anak yang bandel akan meneruskan kebandelannya jika mendapat dukungan dari anak-anak lain. Oleh karena itu, anak-anak yang lain harus diberi pengertian supaya tidak memberi dukungan tindakan kepada anak itu. Tidak adanya dukungan atau mengalami kehilangan basis sosial (social disapproval) akan memudarkan kebandelannya.
  3. Menggunakan sugesti yang tepat. Sugesti yang tepat tidak perlu langsung kepada anak yang bersangkutan. Sebagai contoh: “ Bapak Guru dan Bapak kepala sekolah akan senang sekali jika anak-anak sekalian berdisiplin, karena dengan demikian sekolah ini akan menjadi maju. “ Sugesti ini tidak secara langsung menyingung perseorangan dan bersifat positif. Sugesti ini pernah diucapkan oleh Laksamana Nelson (Inggris) kepada rakyat Inggris yang semangatnya telah runtuh. Sugestinya yang terkenal tersebut adalah : “ Ibu pertiwi menginginkan setiap putranya mengerjakan tugasnya masing-masing dengan baik.”
  4. Mengugah minat anak. Sering kali kebandelan anak timbul karena cara memilih bahan pelajaran dan cara menyajikan membosankan. Bahan pelajaran dan cara penyajian yang membosankan memiliki potensi untuk melahirkan anak-anak bandel. Oleh karena itu, diperlukan bahan dan cara mengajar berorientasi pada murid (student-oriented). Selain dipilihkan bahan pelajaran yang membawa kegembiraan, kepada anak-anak diberikan tugas-tugas dan kesempatan diskusi. Tugas dan diskusi disukai anak-anak karena memberikan kesempatan berinisiatif dan berkreasi.
  5. Mengurangi atau menghapus hak-hak. Bagi anak-anak, bertugas untuk kelas merupakan hak-hak. Anak-anak yang bandel tidak perlu diberik hak-hak ini. Hak-hak tersebut misalnya menghapus papan, membagikan buku, dan sebagainya. Mengurangi hak-hak pada anak, membuat ia merasa dihukum dengan dikucilkan. Akhirnya, ia akan menghentikan kebandelannya.
  6. Mengeluarkan dari kelompok. Hukuman ini paling berat, yaitu anak itu tidak diakui keanggotaannya di kelas itu. Dengan kata lain, “ tidak diorangkan”. Hukuman ini paling berat sehingga berhati-hatilah jika terpaksa menggunakan cara ini.

Bapak dapat memilih mana yang cocok. Selain itu, mungkin Bapak dapat menemukan teknik-teknik yang lebih baik.

Sumber : Suhartin,R.I.C. Smart Parenting. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s