Pendidikan Karakter 2

Menindak lanjuti tulisan saya sebelumnya mengenai pendidikan karakter, ada beberapa paradigma di masyarakat yang harus dirubah terlebih dahulu jika kita ingin menerapkan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di lembaga kita. Khususnya bagi para orang tua siswa karena pada dasarnya semua individu merupakan pelaku pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak bisa semata-mata hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan khususnya guru tetapi semua yang terlibat dalam lingkungan dunia pendididkan harus terlibat dan menyadari akan peran mereka masing-masing dalam pendidikan karakter.

Orang tua siswa boleh berbangga hati jika anak mereka mendapat nilai 10 pada bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan lain-lain tetapi akan jauh lebih bangga jika anak mereka mengalami pembentukan karakter yang baik ketika mereka menempuh pendidikan karena pada dasarnya itulah tujuan pendidikan yaitu change behavior (perubahan perilaku). Mengajar anak untuk hebat dalam Matematika, Fisika, dan mata pelajaran lain itu mudah, ini jelas seperti yang disampaikan oleh salah satu mentor peserta Olimpiade Fisika Indonesia yaitu Yohanes Surya bahwa mendidik anak jago Fisika itu hanya 6 bulan denga kata lain mengajari anak untuk sebuah pengetahuan itu relatif mudah dibandingakan dengan membentuk karakter seorang anak.

Membentuk karakter anak tidak cukup dalam waktu 6 bulan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama dan tentunya itu dimulai dari pendidikan keluarga. Sering kali pendidikan keluarga ini diabaikan bahka jika berbicara pendidikan pasti pemikiran orang tua tertuju pada guru apalagi jika sekolah dimana anaknya dititipkan dibayar dengan mahal, “Untuk apa bayar mahal kalau anak saya tidak terbentuk karakternya?” kata sebagian orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah dan kurang memperhatikan anaknya dikarenakan kesibukannya dalam mencari uang.

Semua diserahkan kepada sekolah dan guru, mereka lupa jika pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Sebagai contoh, percuma jika disekolah seorang anak diajari berdoa oleh gurunya tetapi ketika dirumah dia tidak pernah melihat orang tuanya berdoa. Seorang anak di sekolah diajari untuk menghormati orang tua tetapi ketika dirumah dia melihat kedua orang tuanya memasukkan neneknya ke panti jompo dan berbagai hal lainnya yang terkadang tidak diperdulikan. Pendidikan di sekolah tanpa didukung oleh pendidikan di rumah tidak akan membawa hasil yang memuaskan apalagi jika kita berbicara mengenai pendidikan karakter. Jangan heran jika ada seorang anak begitu pendiam dirumah tetapi begitu liar jika keluar dari lingkungan rumah.

Jangan sampai ketika seorang anak sudah dewasa dan terjun kedalam masyarakat, orang tua menitikkan air mata dikarenakan anak kesayangannya yang terkenal dengan kepintarannya terlibat kasus kriminalitas karena dia tidak mendapat pendidikan karakter yang tepat tetapi hanya pendidikan pengetahuan yang dia gunakan mencari uang dan tanpa dia sadari bahwa cara yang dia lakukan salah dikarenakan selama ini tidak ada yang menyampaikan/menegur jika tindakan dan perilakunya ada yang salah. (PEB)

Advertisements

MEMBACA

Seperti yang sering kita saksikan dalam perjalanan kepemimpinan Presiden Jokowi dimana sering menyampaikan pesan dengan tindakan-tindakan dengan penuh makna. Seperti halnya dengan membeli beberapa burung di Pasar Pramuka Jakarta dan melepaskannya di kompleks istana bogor, pada malam tahun baru hanya duduk dengan menggunakan sarung di depan rumah, mengunjungi proyek yang mangkrak pada pemerintahan sebelumnya dan lain sebagainya yang dilakukan dengan tujuan memberikan pesan kepada berbagai pihak akan permasalahan tertentu.

Hal yang sama juga beliau lakukan ketika berkunjung ke Ambon pada hari Rabu yang lalu dimana dia melakukan rangkaian kunjungannya dengan mengunjungi sebuah toko buku terkenal dan membeli dua buah buku. Apa yang dilakukan Jokowi tentunya menyimpan makna dimana dia mengatakan “minat baca masyarakat kita rendah dan perlu dilakukan injeksi” dan apa yang disampaikan beliau itu memang benar. Dalam sebuah penelitian oleh lembaga internasional, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Menurut lembaga tersebut dari 65 negara, Indonesia menempati urutan yang ke 64. Jika dianalogikan minat baca itu seperti sebuah gedung pencakar langit maka Indonesia itu merupakan bagian basement gedung tersebut.

Dengan kunjungan Jokowi ke toko buku merupakan salah satu injeksi bagi masyarakat bahwa kita perlu meningkatkan daya baca dan tentunya hal tersebut harus kita respon cepat, dengan menggalakkan minat baca untuk semua lapisan masyarakat seperti harapan pak Presiden karena itu bagian dari mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam hal ini dengan harapan apa yang diharapakan oleh pak Presiden dapat tercapai dan minat baca masyarakat dapat meningkat. Membaca memiliki manfaat yang sangat besar bagi seseorang, dapat mengetahui berbagai hal yang terjadi di dunia, memberikan inspirasi dan bisa juga digunakan sebagai salah satu alternatif soluisi dalam mengatasi kecanduan anak akan gadget, menghindarkan diri dari berita-berita hoak yang merajarela dan lain sebagainya, oleh karena itu sudah saatnya kita untuk lebih sering membaca khususnya buku.Mari Membaca. (PEB)

ORANG KREATIF

Banyak peneliti yang telah mempelajari tentang orang kreatif, dengan tujuan untuk mencari persamaannya dan mencoba mencari tahu hal-hal apa saja yang membentuk orang-orang kreativitas. Sebagian besar peneliti menunjukkan empat ciri khas orang kreatif :

Keberanian – Orang kreatif berani menghadapi tantangan baru dan bersedia menghadapi risiko kegagalan. Mereka penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Richard L. Weaver II, dosen di Universitas Bowling Green, pernah berkata, kreativitas berarti kemauan berwisata di suatu wilayah yang baru.

Ekspresif – Orang kreatif tidak takut menyatakan pemikiran dan perasaannya. Mereka menjadi dirinya sendiri. T.J Twitchell, konsultan keuangan di Merrill-Lynch, mengatasi kecemasannya akan cold – calling (menelepon konsumen untuk menawarkan jasa atau barang) dengan cara berdiri dang mengenakan topi penerbang bergaya pemain bisbol. Dengan demikian, dia dapat menganggap cold – calling sebagai suatu petualangan dan membantu dia menjadi salah satu pialang paling top di Merrill-Lynch.

Humor – Humor berkaitan erat dengan kreativitas. Jadi kita menggabungkan hal-hal sedemikian rupa sehingga menjadi berbeda, tak terduga, dan tidak lazim, berarti kita bermain-main dengan humor. Menggabungkan berbagai hal dengan cara yang baru dan bermanfaat akan menghasilkan kreativitas.

Intuisi – Orang kreatif menerima intuisi sebagai aspek wajar dalam kepribadiannya. Mereka paham bahwa intuisi umumnya berasal dari sifat otak kanan, yang memiliki pola komunikasi berbeda dengan belahan-otak kiri.

Ciri psikologis lain yang umumnya dimiliki orang kreatif yang diidentifikasikan David N.Perkins, Wakil Direktur Project Zero di Universitas Harvard, adalah :

  • Dorongan untuk menemukan keteraturan dalam keadaan kacau balau
  • Minat menemukan masalah yang tidak umum, juga penyelesaiannya
  • Kemampuan membentuk kaitan-kaitan baru, dan menentang anggapan tradisional
  • Kemampuan menyeimbangkan kreasi gagasan dengan pengujian dan penilaian
  • Hasrat untuk melenyapkan berbagai hal yang membatasi kemampuan mereka
  • Termotivasi oleh masalah/tugas itu sendiri, bukannya oleh keuntungan lain, seperti uang, jabatan, atau popularitas

Sifat-sifat diatas dapat diajarkan dan ditumbuhkan, tetapi sistem pendidikan kita dewasa ini sudah sangat disibukkan oleh keterbatasan anggaran dan masalah sosio-ekonomi, seperti narkoba, putus sekolah, dan kejenuhan guru sehingga belum cukup perhatian dicurahkan untuk mengajar murid berpikir dan bertindak lebih kreatif. Murid tidak dirangsang untuk menemukan dan mendefinisikan masalahnya sendiri, kekacauan tidak dianjurkan. Murid tidak diajari mencari dan menghargai lebih dari satu jawaban terhadap masalah. Terlalu banyak penekananan pada jawaban yang benar dan pemikirian yang “aman”.

Secara alamiah, anak-anak itu kreatif, tidak konvensional (tidak mengikuti adat),penuh humor, dan mudah bosan. Sistem pendidikan kita menganjurkan disiplin, keptuhan, dan pemberian jawaban yang sesuai dengan keinginan guru sehingga sifat-sifat alami tersebut sering padam.

Sistem seko­­­­­lah yang menginginkan keteraturan dan kedisiplinan, serta anak yang menyesuaikan diri dengan sistem agar terhindar dari kegagalan dan tertawaan, akhirnya membentuk lingkungan yang sedang-sedang (mediocrity). Rasa takut gagal mulai mendominiasi sifat ingin tahu yang alami pada anak. Pelatihan kreativitas dapat menghapus akibat negatif sistem pendidikan kita, serta memungkinkan seseorang kembali ke sifat unik yang alamni pada dirinya.

Apabila seseorang telah menemukan kreativitasnya, mereka cenderung menjadi mandiri, percaya diri, berani mengambil risiko, berenergi tinggi, antusias, spontan, suka berpetualang, cermat, selalu ingin tahu, humoris, suka bermain, dan polos seperti anak-anak.

Walaupun mengenali sifat-sifat yang mendorong kreativitas merupakan hal yang penting. Lebih penting lagi mengingat bahwa kita semua terlahir dengan kemampuan mencipta. Memahami proses kreativitas dapat meningkatkan kemampuan kreatif kita.

Sumber : Wycoff, Joyce, Menjadi super kreatif melalui pemetaan pemikiran, 2003

PENDIDIKAN KARAKTER

Salah satu tujuan utama dalam pendidikan di Indonesia ini adalah bagaimana membentuk karakter dari peserta didik sehingga ketika mereka setelah lulus memiliki karakter yang kuat dalam hidup di masyarakat. Sesungguhnya karakter merupakan salah satu modal dasar dalam membentuk generasi-generasi penerus bangsa. Menurut Pusat Bahasa Kemendikbud, karakter merupkan “bawaan,hati,jiwa,kepribadian, budi pekerti,perilaku, personalitas,sifat,tabiat, tempramen,watak” tentunya dari pengertian itu semua dalam hal yang positif. Karakter itu sendiri berkaitan dengan berbagai hal seperti sikap (attitudes),perilaku (behaviours),motivasi (motivations) dan keterampilan (skills).

Dari keterkaitan tersebut dapat dilihat betapa pentingnya pendidikan karakter dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan dinilai bukan dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh peserta didiknya tetapi bagaimana sekolah tersebut dapat mencetak lulusan-lulusan yang memiliki karakter kuat sebagai modal dasar mereka dalam meraih kesuksesan. Tentunya dari pengalaman kita selama ini kesuksesan seseorang bukan dilihat dari nilai mereka pada saat di bangku sekolah tetapi sejauh mana seorang peserta didik dapat menggali karakter yang luar biasa pada dirinya. Seperti yang kita lihat selama ini banyak sekali orang-orang yang dulunya di sekolah tidak memiliki nilai yang tinggi, dan terlihat biasa-biasa saja tetapi lebih sukses dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya.

Disamping itu, penulis melihat saat ini sudah saatnya pendidikan di Indonesia untuk lebih serius dalam menerapkan pendidikan karakter apalagi jika melihat kondisi bangsa kita saat ini dimana karakter masyarakat di Nusantara ini sudah semakin jelas mulai luntur. Kita lihat saja di berbagai media dimana satu sama lain saling lapor polisi karena masalah ucapan yang pada dasarnya masih bisa di dialogkan secara baik-baik,mudahnya keluar kata-kata kafir, saling menjatuhkan satu dengan yang lain, saling serang antara satu kelompok dengan kelompok lain, munculnya kelompok intoleran, radikalisme dan sebagainya yang selama ini nyaris tidak pernah terdengar di Nusantara ini.

Lembaga pendidikan sudah semestinya menyadari dan memperbaiki hal ini, pendidikan kita saat ini tidak boleh lagi berfokus pada pengetahuan semata tetapi harus pada pembentukan karakter anak bangsa. Pendidik, Tenaga Kependidikan,dan orang tua janganlah merasa hebat jika anaknya mendapat nilai bagus di Matematika, Fisika, Kimia tetapi tidak memiliki karakter sebagai anak bangsa Indonesia. Cerdas/pintar tetapi tidak memiliki karakter merupakan pendidikan yang gagal. Kita lihat saja latar belakang pendidikan orang-orang yang ada di tahanan KPK, pastinya kemampuan pengetahuan mereka sudah tidak diragukan lagi tetapi karena karakter sebagai orang terdidik tidak mereka miliki maka mereka dengan mudah terjerumus pada lembah korupsi.

Saat ini, masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan. Jika kita tidak segera memperbaiki ini semua maka bangsa ini akan mudah dipecah belah. Kembalikan karakter kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi, ramah,Damai, bersahabat, religius, gotong royong, kekeluargaan, Musyawarah untuk mufakat dan berbagai karakter lain yang melekat pada budaya bangsa Indonesia. (PEB)