Menindak lanjuti tulisan saya sebelumnya mengenai pendidikan karakter, ada beberapa paradigma di masyarakat yang harus dirubah terlebih dahulu jika kita ingin menerapkan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di lembaga kita. Khususnya bagi para orang tua siswa karena pada dasarnya semua individu merupakan pelaku pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak bisa semata-mata hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan khususnya guru tetapi semua yang terlibat dalam lingkungan dunia pendididkan harus terlibat dan menyadari akan peran mereka masing-masing dalam pendidikan karakter.

Orang tua siswa boleh berbangga hati jika anak mereka mendapat nilai 10 pada bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan lain-lain tetapi akan jauh lebih bangga jika anak mereka mengalami pembentukan karakter yang baik ketika mereka menempuh pendidikan karena pada dasarnya itulah tujuan pendidikan yaitu change behavior (perubahan perilaku). Mengajar anak untuk hebat dalam Matematika, Fisika, dan mata pelajaran lain itu mudah, ini jelas seperti yang disampaikan oleh salah satu mentor peserta Olimpiade Fisika Indonesia yaitu Yohanes Surya bahwa mendidik anak jago Fisika itu hanya 6 bulan denga kata lain mengajari anak untuk sebuah pengetahuan itu relatif mudah dibandingakan dengan membentuk karakter seorang anak.

Membentuk karakter anak tidak cukup dalam waktu 6 bulan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama dan tentunya itu dimulai dari pendidikan keluarga. Sering kali pendidikan keluarga ini diabaikan bahka jika berbicara pendidikan pasti pemikiran orang tua tertuju pada guru apalagi jika sekolah dimana anaknya dititipkan dibayar dengan mahal, “Untuk apa bayar mahal kalau anak saya tidak terbentuk karakternya?” kata sebagian orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah dan kurang memperhatikan anaknya dikarenakan kesibukannya dalam mencari uang.

Semua diserahkan kepada sekolah dan guru, mereka lupa jika pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Sebagai contoh, percuma jika disekolah seorang anak diajari berdoa oleh gurunya tetapi ketika dirumah dia tidak pernah melihat orang tuanya berdoa. Seorang anak di sekolah diajari untuk menghormati orang tua tetapi ketika dirumah dia melihat kedua orang tuanya memasukkan neneknya ke panti jompo dan berbagai hal lainnya yang terkadang tidak diperdulikan. Pendidikan di sekolah tanpa didukung oleh pendidikan di rumah tidak akan membawa hasil yang memuaskan apalagi jika kita berbicara mengenai pendidikan karakter. Jangan heran jika ada seorang anak begitu pendiam dirumah tetapi begitu liar jika keluar dari lingkungan rumah.

Jangan sampai ketika seorang anak sudah dewasa dan terjun kedalam masyarakat, orang tua menitikkan air mata dikarenakan anak kesayangannya yang terkenal dengan kepintarannya terlibat kasus kriminalitas karena dia tidak mendapat pendidikan karakter yang tepat tetapi hanya pendidikan pengetahuan yang dia gunakan mencari uang dan tanpa dia sadari bahwa cara yang dia lakukan salah dikarenakan selama ini tidak ada yang menyampaikan/menegur jika tindakan dan perilakunya ada yang salah. (PEB)

Advertisements