PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP PENGARUH NEGATIF GADGET

Leave a comment

Perkembangan teknologi saat ini bisa dikatakan sangat luar biasa, dan kita semua tentu merasakan berbagai dampak dari perkembangan teknologi saat ini. Jangankan kita sebagai masyarakat biasa, perusahaan besar sekalipun sangat merasakan dampak dari perkembangan teknologi yang sangat luar biasa. Jelas terlihat bagaimana perusahaan retail yang dulu dikenal sangat besar tiba-tiba harus tutup, profesi yang dulu sangat dibanggakan tiba-tiba tergantikan dengan sebuah teknologi.

Hal ini tentunya tidak bisa kita hindari atau tidak bisa kita bendung karena semua dunia merasakan hal yang sama, terlebih negara kita ini yang menurut saya terlambat dalam membendung aliran teknologi yang sangat dahsyat tersebut. Sebagai contoh, di negara Cina kita tidak akan menemukan yang namanya Google tetapi mereka membuat sebuah website yang mirip dengan google tetapi isinya difilter/disaring oleh pemerintah. Bukan untuk membatasi warga masyarakatnya dalam mengakses internet tetapi untuk melindungi warga masyarakat terhadap akses negatif yang notabene sangat banyak terdapat di Internet.

Negara kita ini sebenarnya sudah cukup terlambat dalam masalah ini atau bisa dikatakan negara kita sudah terlambat dalam melakukan filter terhadap hal-hal negatif yang ada di internet. Sebagai contoh jika kita menemukan situs-situs berbahaya untuk melaporkan ke pihak pemerintah yang cukup mudah baru ada tahun yang lalu dan bagi saya pribadi masih kurang efektif jika dibandingkan dengan negara lain dimana mereka tinggal mengklik Report Abuse maka laporannya akan segera di proses.

Anak-anak Indonesia saat ini tentunya sangat merasakan kehadiran teknologi di kehidupan mereka khususnya yang namanya Gadget yang ada dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga hal ini menimbulkan kekwatiran dikalangan orang tua karena anak-anak menggunakan teknologi seperti smartphone hanya untuk hiburan seperti bermain game, melihat video dan hal lain yang sebenarnya kurang baik dan sangat membuat anak-anak menjadi kecanduan terhadap yang namanya smartphone.

Saat ini, orang tua sudah mulai merasakan kekwatiran akan anak-anak mereka yang kecanduan yang namanya gadget terlebih yang namanya smartphone, hal ini terkait dengan banyaknya hal-hal yang kurang baik dalam dunia internet ada di dalam gengaman anak-anak mereka dan hal itu tidak bisa dikontrol orang tua. Pada dasarnya hal tersebut tidak akan terjadi apabila orang tua ketika memberikan gadget kepada anak-anaknya terlebih dahulu di dahulu dilakukan komunikasi yang baik terhadap anak dalam hal pertanggung jawaban anak dalam menggunakan smartphone yang diberikan oleh orang tuanya. Disamping itu orang tua seudah seharusnya melakukan protect terhadap smartphone tersebut sebelum diberikan kepada anaknya.

Sebenarnya perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam dunia IT telah membuat beberapa langkah dalam melindungi anak dari pengaruh gadget seperti dengan membuat parental control atau kontrol orang tua terhadap smartphone yang diberikan kepada anak, tetapi terkadang orang tua tidak memperhatikan hal-hal tersebut. Contohnya dalam pengunaan android, sebenarnya di Android ada menu untuk mengaktifkan parental control supaya smartphone sebelum diberikan kepada anak, kontrol ada di orang tua. Dengan adanya kontrol di orang tua ketika anak ingin mendownload aplikasi-aplikasi yang ada di Android hanya dapat mendownload aplikasi yang diijinkan oleh orang tua sehingga anak terlindung dari aplikasi-aplikasi yang tidak sesuai dengan usia anak.  Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah pengaruh-pengaruh negatif tersebut. Intinya, orang tua harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan lebih bijak dalam memberikan gadget kepada anak-anak mereka. Orang tua harus bisa menjadi filter bagi anak-anak mereka dalam mencegah pengaruh negatif gadget kepada anak. Jadilah Orang tua zaman now.  (PEB)

Advertisements

Digital Content

Leave a comment

MENGAJAR SEPERTI PENYANYI

Leave a comment

Dalam beberapa kali pertemuan dengan para guru, saya menyampaikan jika mengajar itu sebuah seni. Beda guru beda gaya mengajar, beda mata pelajaran yang diampu, beda metode mengajar yang digunakan. Sama halnya dengan seorang penyanyi, tentunya gaya bernyayi setiap penyanyi berbeda baik dari sisi jenis musik yang digunakan maupun dari sisi teknik menyanyi ketika tampil dalam sebuah panggung pertunjukan.

Namun ada satu yang sama antara mengajar dengan bernyanyi yaitu sama-sama membutuhkan persiapan. Seorang penyanyi yang akan tampil dalam sebuah show, beberapa hari sebelumnya dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Dari mulai materi lagu yang akan dibawakan, kostum yang akan dikenakan, kata-kata yang akan dia ucapkan dipanggung, latihan vokal, check sound dan lain sebagainya. Bahkan ada seorang penyanyi dimana setiap kali dia tanmpil dia harus sudah mulai make up 6-7 jam sebelum tampil diatas panggung. Sama halnya dengan mengajar, semua membutuhkan persiapan.

Seorang guru sebelum mulai mengajar tentunya harus mempersiapkan beberapa hal sebelum masuk kedalam kelas :

  1. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), para guru tentunya tidak asing lagi dengan kedua hal ini meskipun terkadang ada guru yang melupakannnya dan hanya dijadikan sebagai formalitas dalam memenuhi ketentuan yang ada. Padahal Silabus dan RPP merupakan panduan seorang guru dalam mengajar di kelas atau dapat dianalogikan bahwa RPP dan Silabus merupakan peta seseorang menuju ke sebuah tujuan.
  2. Materi Ajar. Hal ini sangat penting, jika dalam menyanyi ini adalah lirik lagunya. Yang artinya ini merupakan nyawa dari keberhasilan seorang guru. Seorang guru yang mempersiapkan materi ajar dengan baik akan terlihat berbeda dengan yang tidak mempersiapkan materi ajar. Guru yang tidak mempersiapkan materi ajar akan bingung dan bertanya dalam hati ketika masuk ke dalam pintu kelas “Saya mengajar apa hari ini?”, kalau gurunya sudah bingung apakah mungkin bisa menyampaikan materi pembelajaran dengan baik. Berbeda dengan guru yang sudah mempersiapkan materi ajar, dia akan masuk ke dalam kelas dengan penuh senyum dan memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin dan tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia.
  3. Metode pembelajaran, ada berbagai macam metode pembelajaran dan sebaiknya sebelum guru masuk ke dalam kelas, sudah menentukan metode apa yang akan digunakan dalam menyampaikan materi di kelas. Hindari menggunakan metode yang sama setiap memberikan materi di dalam kelas karena itu akan menjadi langkah awal siswa kita akan menemukan kejenuhan dan bosan.
  4. Sumber lain, Ilmu pengetahuan itu berkembang sangat pesat dan menurut sebuah sumber ada 3000 artikel muncul setiap hari di internet, yang artinya ada ilmu-ilmu baru yang bermunculan di seluruh dunia. Sebagai seorang guru harus update dengan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diampu. Guru harus rajin mencari sumber-sumber lain mengenai mata pelajaran yang diajarkan baik melalui membaca buku, mencari di internet, mengikuti seminar dan lain sebagainya.
  5. Perangkat pembelajaran lainnya. Perangkat pembelajaran lainnya meliputi absen siswa, agenda guru, dan form penilaian/buku nilai siswa. Tentunya para guru sudah memahami hal ini, tetapi yang perlu saya sampaikan perangkat ajar ini terlihat sederhana dan mungkin ada guru yang merasa hal ini kurang penting tetapi suatu ketika akan menjadi sebuah hal yang sangat dibutuhkan. Contohnya jika ada orang tua siswa yang protes dengan nilai anaknya yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan guru yang baik akan menunjukkan semua history dari penilaian dari siswa tersebut hingga masuk kedalam raport. Bayangkan jika guru tidak memiliki history dari nilai anak tersebut, dia akan kebingungan dalam menjawab pertanyaan dari orang tua.
  6. Berlatih, mungkin hanya sebagian kecil dari guru kita yang menyadari hal ini jika kita sebagai pengajar membutuhkan latihan-latihan untuk lebih meningkatkan kemampuan kita dalam mengajar karena kita harus ingat bahwa sebagai pengajar tidak boleh berhenti belajar atau sering disebut dengan long life learning (belajar sepanjang hayat). Sebagai contoh sebagai seorang guru komputer dia harus terus belajar ilmu-ilmu komputer yang baru sehingga jika ada siswa yang bertanya dapat dijawab dengan baik, seorang guru matematika harus terus belajar untuk menyelesaikan soal dengan metode-metode baru, jangan sampai kalah kemampuannya dengan guru les siswa dirumah. Berlatih bagi seorang guru merupakan hal yang wajib untuk tetap meningkatkan profesionalitas sebagai seorang pendidik.

Jika seorang penyanyi sebelum tampil membutuhkan banyak persiapan, begitupun dalam mengajar. Butuh persiapan, persiapan, dan persiapan.(PEB)

MATERI AJAR

Leave a comment

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu juri lomba guru yang diselenggarakan oleh sebuah sekolah swasta di daerah Jakarta Barat. Secara pribadi saya sangat memberikan apresiasi bagi pelaksanaan lomba tersebut, hal ini saya rasa sebagai bagian dari pengembangan profesionalitas seorang guru. Lomba yang diikuti oleh seluruh guru ini diawali dengan membuat sebuah materi ajar dengan menggunakan sebuah aplikasi presentasi. Pada saat para guru menerapkan di kelas langsung disupervisi oleh kepala sekolah setelah itu dilakukan penilaian oleh juri independen dimana salah satunya adalah saya sendiri.

Dari proses penilaian yang kami lakukan, saya mendapatkan sebuah pelajaran yaitu masih banyak guru yang membuat materi ajar kurang maksimal yang artinya masih jarangnya guru-guru menggunakan materi ajar dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Hal ini sebenarnya sering penulis temui di berbagai sekolah termasuk pada guru yang berada dibawah institusi yang sama dengan saya, padahal media ajar ini merupakan salah satu media yang cukup sederhana dan dapat membuat proses belajar mengajar dapat lebih menarik dan tidak membosankan. Dari pengalaman yang saya alami tersebut, melalui ini saya ingin menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat media ajar dengan menggunakan media presentasi.

  1. Tampilan menarik bukan mendekor, tampilan slide yang akan kita tampilkan jangan terlalu banyak hiasan atau gambar pendukung sehingga apa yang ditampilkan terlihat ramai yang pada akhirnya siswa kurang tertarik melihat apa yang kita tampilkan.
  2. Tujuan pembelajaran, Kompetensi inti dan kompetensi Dasar, dari beberapa slide seorang guru dalam mengajar yang pernah saya lihat masih banyak guru yang tidak menampilkan hal ini, padahal ini merupakan hak dari siswa untuk mengetahuinya sehingga dia tau apa yang dia pelajari & kompetensi apa yang akan di capai.
  3. Apersepsi, para guru sebenarnya sudah tidak asing dengan hal ini meskipun banyak guru yang tidak menggunakan ini padahal ini sangat menentukan sebuah keberhasilan kegiatan belajar mengajar di kelas. Banyak ahli yang mendefinisikan pengertian apersepsi dan bagi saya pribadi, apersepsi merupakan langkah awal kita menarik perhatian siswa untuk siap menerima pelajaran dari kita. Hal ini dapat kita lakukan dengan beberapa hal, contohnya dengan menampilkan video pendidikan yang berkaitan dengan proses pembelajaran, menyampaikan informasi teknologi yang ada saat ini, mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, role play, dan lain sebagainya yang kirannya dapat menjadi momentum dalam memulai sebuah proses pembelajaran.
  4. Terlalu banyak tulisan, masih banyak guru yang menampilkan banyak tulisan dalam tampilan materi ajarnya, sebaiknya hal tersebut dihindari karena pada dasarnya aplikasi presentasi di desain hanya untuk menampilkan pointnya saja bukan seluruh keterangan yang ada, dan tentunya jika siswa melihat tampilan tulisan yang terlalu banyak akan membuat mereka lebih cepat jenuh. Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya dikombinasikan dengan gambar dan video.
  5. Penggunaan Tools, saat ini sudah banyak sekali aplikasi presentasi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran di kelas dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Hendaknya guru dapat memaksimalkan penggunaan tools-tools yang ada dalam aplikasi tersebut seperti animasi, hiperlink, transition dan lain sebagainya yang membuat tampilan materi ajar kita lebih menarik.
  6. Panduan, Materi ajar harus dapat menggambarkan apa yang akan dilakukan selama di kelas dan akan menjadi panduan kita dalam melaksanakan proses pembelajaran. Jika memang materi tersbut akan dibuat dalam 2 kali pertemuan sebaiknya terlihat adanya pemisahan jelas antara pertemuan satu dengan pertemuan selanjutnya.
  7. Review, Salah satu bagian penting dari proses pembelajaran walaupun sering dilupakan adalah mereview materi yang diajarkan. Sebagai seorang guru tentunya harus memastikan apakah yang telah kita sampaikan benar-benar sudah dipahami oleh siswa atau belum. Selain itu juga untuk mempersiapkan siswa jika ada pertanyaan dari orang tua/orang lain tentang yang dia pelajari dikelas, siswa sudah tahu jawaban apa yang akan disampaikan dan menghindari kata “lupa”.

Semoga bermanfaat. (PEB)

MEMBACA

Leave a comment

Seperti yang sering kita saksikan dalam perjalanan kepemimpinan Presiden Jokowi dimana sering menyampaikan pesan dengan tindakan-tindakan dengan penuh makna. Seperti halnya dengan membeli beberapa burung di Pasar Pramuka Jakarta dan melepaskannya di kompleks istana bogor, pada malam tahun baru hanya duduk dengan menggunakan sarung di depan rumah, mengunjungi proyek yang mangkrak pada pemerintahan sebelumnya dan lain sebagainya yang dilakukan dengan tujuan memberikan pesan kepada berbagai pihak akan permasalahan tertentu.

Hal yang sama juga beliau lakukan ketika berkunjung ke Ambon pada hari Rabu yang lalu dimana dia melakukan rangkaian kunjungannya dengan mengunjungi sebuah toko buku terkenal dan membeli dua buah buku. Apa yang dilakukan Jokowi tentunya menyimpan makna dimana dia mengatakan “minat baca masyarakat kita rendah dan perlu dilakukan injeksi” dan apa yang disampaikan beliau itu memang benar. Dalam sebuah penelitian oleh lembaga internasional, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Menurut lembaga tersebut dari 65 negara, Indonesia menempati urutan yang ke 64. Jika dianalogikan minat baca itu seperti sebuah gedung pencakar langit maka Indonesia itu merupakan bagian basement gedung tersebut.

Dengan kunjungan Jokowi ke toko buku merupakan salah satu injeksi bagi masyarakat bahwa kita perlu meningkatkan daya baca dan tentunya hal tersebut harus kita respon cepat, dengan menggalakkan minat baca untuk semua lapisan masyarakat seperti harapan pak Presiden karena itu bagian dari mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam hal ini dengan harapan apa yang diharapakan oleh pak Presiden dapat tercapai dan minat baca masyarakat dapat meningkat. Membaca memiliki manfaat yang sangat besar bagi seseorang, dapat mengetahui berbagai hal yang terjadi di dunia, memberikan inspirasi dan bisa juga digunakan sebagai salah satu alternatif soluisi dalam mengatasi kecanduan anak akan gadget, menghindarkan diri dari berita-berita hoak yang merajarela dan lain sebagainya, oleh karena itu sudah saatnya kita untuk lebih sering membaca khususnya buku.Mari Membaca. (PEB)

ORANG KREATIF

Leave a comment

Banyak peneliti yang telah mempelajari tentang orang kreatif, dengan tujuan untuk mencari persamaannya dan mencoba mencari tahu hal-hal apa saja yang membentuk orang-orang kreativitas. Sebagian besar peneliti menunjukkan empat ciri khas orang kreatif :

Keberanian – Orang kreatif berani menghadapi tantangan baru dan bersedia menghadapi risiko kegagalan. Mereka penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Richard L. Weaver II, dosen di Universitas Bowling Green, pernah berkata, kreativitas berarti kemauan berwisata di suatu wilayah yang baru.

Ekspresif – Orang kreatif tidak takut menyatakan pemikiran dan perasaannya. Mereka menjadi dirinya sendiri. T.J Twitchell, konsultan keuangan di Merrill-Lynch, mengatasi kecemasannya akan cold – calling (menelepon konsumen untuk menawarkan jasa atau barang) dengan cara berdiri dang mengenakan topi penerbang bergaya pemain bisbol. Dengan demikian, dia dapat menganggap cold – calling sebagai suatu petualangan dan membantu dia menjadi salah satu pialang paling top di Merrill-Lynch.

Humor – Humor berkaitan erat dengan kreativitas. Jadi kita menggabungkan hal-hal sedemikian rupa sehingga menjadi berbeda, tak terduga, dan tidak lazim, berarti kita bermain-main dengan humor. Menggabungkan berbagai hal dengan cara yang baru dan bermanfaat akan menghasilkan kreativitas.

Intuisi – Orang kreatif menerima intuisi sebagai aspek wajar dalam kepribadiannya. Mereka paham bahwa intuisi umumnya berasal dari sifat otak kanan, yang memiliki pola komunikasi berbeda dengan belahan-otak kiri.

Ciri psikologis lain yang umumnya dimiliki orang kreatif yang diidentifikasikan David N.Perkins, Wakil Direktur Project Zero di Universitas Harvard, adalah :

  • Dorongan untuk menemukan keteraturan dalam keadaan kacau balau
  • Minat menemukan masalah yang tidak umum, juga penyelesaiannya
  • Kemampuan membentuk kaitan-kaitan baru, dan menentang anggapan tradisional
  • Kemampuan menyeimbangkan kreasi gagasan dengan pengujian dan penilaian
  • Hasrat untuk melenyapkan berbagai hal yang membatasi kemampuan mereka
  • Termotivasi oleh masalah/tugas itu sendiri, bukannya oleh keuntungan lain, seperti uang, jabatan, atau popularitas

Sifat-sifat diatas dapat diajarkan dan ditumbuhkan, tetapi sistem pendidikan kita dewasa ini sudah sangat disibukkan oleh keterbatasan anggaran dan masalah sosio-ekonomi, seperti narkoba, putus sekolah, dan kejenuhan guru sehingga belum cukup perhatian dicurahkan untuk mengajar murid berpikir dan bertindak lebih kreatif. Murid tidak dirangsang untuk menemukan dan mendefinisikan masalahnya sendiri, kekacauan tidak dianjurkan. Murid tidak diajari mencari dan menghargai lebih dari satu jawaban terhadap masalah. Terlalu banyak penekananan pada jawaban yang benar dan pemikirian yang “aman”.

Secara alamiah, anak-anak itu kreatif, tidak konvensional (tidak mengikuti adat),penuh humor, dan mudah bosan. Sistem pendidikan kita menganjurkan disiplin, keptuhan, dan pemberian jawaban yang sesuai dengan keinginan guru sehingga sifat-sifat alami tersebut sering padam.

Sistem seko­­­­­lah yang menginginkan keteraturan dan kedisiplinan, serta anak yang menyesuaikan diri dengan sistem agar terhindar dari kegagalan dan tertawaan, akhirnya membentuk lingkungan yang sedang-sedang (mediocrity). Rasa takut gagal mulai mendominiasi sifat ingin tahu yang alami pada anak. Pelatihan kreativitas dapat menghapus akibat negatif sistem pendidikan kita, serta memungkinkan seseorang kembali ke sifat unik yang alamni pada dirinya.

Apabila seseorang telah menemukan kreativitasnya, mereka cenderung menjadi mandiri, percaya diri, berani mengambil risiko, berenergi tinggi, antusias, spontan, suka berpetualang, cermat, selalu ingin tahu, humoris, suka bermain, dan polos seperti anak-anak.

Walaupun mengenali sifat-sifat yang mendorong kreativitas merupakan hal yang penting. Lebih penting lagi mengingat bahwa kita semua terlahir dengan kemampuan mencipta. Memahami proses kreativitas dapat meningkatkan kemampuan kreatif kita.

Sumber : Wycoff, Joyce, Menjadi super kreatif melalui pemetaan pemikiran, 2003

GURU HEBAT/PROFESIONAL

Leave a comment

Begitu banyak cerita-cerita guru hebat yang sudah pernah kita dengar, dari zamannya Umar Bakri sampai detik ini masih banyak masalah guru yang belum dapat terselesaikan oleh pemerintah padahal guru menjadi ujung tombak dalam sebuah pendidikan. Ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini terdapat tuntutan baru kepada guru yaitu menjadi guru profesional meskipun sebenarnya tuntutan itu agak berlebihan karena bagaimanapun guru sebagai profesi tentunya harus dijalankan secara profesional. Lalu mengapa tuntutan seperti itu muncul dari kalangan masyarakat? Dari beberapa sumber yang penulis baca dan beberapa kenyataan yang penulis lihat sebagai seorang guru, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut muncul seperti :

  1. Guru terkadang tidak mendalami profesinya, profesi guru dipahami hanya sekedar berdiri di depan kelas menyampaikan materi yang ada di buku dan selesai, apalagi guru yang mengajar di dua atau lebih sekolah akan sulit memiliki waktu untuk mendalami profesinya terlebih dalam mendalami materi yang diajarkan. Tidak heran jika ada guru yang ditanya mengenai profesinya sering tidak memahami, berbeda profesi lain seperti pengacara atau dokter dimana jika ditanya mengenai profesinya dia akan menjabarkan dari A-Z secara lengkap.
  2. Sulit berubah dalam menyampaikan materi yang diajarkan khususnya guru yang sudah lama mengajar. Guru tersebut tidak menyadari bahwa zaman sudah berubah, jika dulu murid yang diajar hanya makan nasi, lauk pauk dan sayur sekarang murid yang diajar sudah makan fast food, dulu belajar hanya dari buku sekarang tinggal searching lewat smartphone dan lain sebaigainya termasuk dalam hal perilaku siswa juga sudah berubah tetapi gaya mengajar sang guru juga tidak berubah.
  3. Mengangap profesi guru adalah profesi yang mudah karena hanya mengajar materi yang sama setiap tahun dan tidak ada perubahan sehingga ada kecenderungan apanya yang perlu berubah jika materi yang diajarkan juga sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan hanya mengulang. Tatapi apakah guru pernah melakukan analisis di tahun berapa anak yang dihasilkan dari kelasnya menjadi manusia seutuhnya dan ditahun mana yang gagal dan hanya menjadi beban orang tuanya? Dengan materi pengajaran yang sama.
  4. Terlalu sibuk dengan administrasi demi cairnya sertifikasi, kita semua memahami guru selalu dibebani dengan permasalahan administrasi sedangkan di negara-negara lain guru sudah tidak lagi di bebankan dengan masalah administrasi karena sudah dibantu oleh pihak sekolah dalam mengurus administrasi yang mereka jalani.
  5. Gaptek (gagap teknologi), sedangkan pendidikan tidak pernah lepas dari perkembangan teknologi. Jika dulu mengajar menggunakan sabak, berubah menjadi kapur, lalu spidol dan sekarang mengajar dengan Tablet. Itu merupakan salah satu bukti nyata perubahan teknologi tidak lepas dari dunia pendidikan.

Guru profesional atau saya sebut dengan sebutan guru hebat harus mampu menjawab itu semua. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2013 dikatakan Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Dalam undang-undang ini jelas terlihat betapa beratnya menjadi seorang pendidik apalagi jika masih ditemukan seperti hal-hal yang ada diatas. Untuk itu, guru di zaman sekarang ini tentunya perlu melakukan beberapa hal dalam menjawab tugas berat sebagai pendidik, seperti :

  1. Bertumbuh, Jadilah guru yang selalu bertumbuh dan tidak hanya terpaku pada satu titik dimana anda saat ini, carilah ilmu pengetahuan lain yang dapat mendukung kinerja anda sebagai seorang pendidik. Ini dapat dilakukan melalui training/pelatihan, diskusi dengan guru lain yang sudah lebih dulu bertumbuh, seminar, ataupun dengan melanjutkan pendidikan ke tempat yang lebih tinggi. Saya yakin guru yang bertumbuh dalam segala hal di kelaspun akan selalu bertumbuh dan tentunya akan menghasilkan siswa-siswa yang selalu akan tumbuh.
  1. Rajin, Jadilah guru yang rajin dalam mengenal,mengamati, dan mengevaluasi kemapuan anda dan siswa anda. Apakah metode yang saya pakai dalam mengajar sudah sesuai dengan materi yang saya ajarkan? Gaya belajar seperti apa yang disukai oleh murid saya? Saat ini banyak sekali guru yang tidak mengetahui gaya belajar dari muridnya sehingga tidak jarang ketika guru menerangkan sebuah materi ada siswa yang sibuk dengan dunianya sendiri.
  1. Inovatif, Di zaman ini bagi guru, karyawan, bahkan perusahaan dituntut untuk berinovasi. Kita sudah lihat berapa banyak perusahaan yang pontang panting karena terlambat berinovasi dan berapa banyak perusahaan yang muncul dari sebuah inovasi. Begitupun dengan guru, Inovasi mutlak diperlukan karena itu sudah menjadi tuntutan zaman saat ini. Jika anda terus-menerus mengajar dengan gaya dan pola yang sama apakah siswa anda akan senang belajar dengan anda? Apakah akan tercipta kelas yang menyenangkan dan apakah output yang anda hasilkan akan mengalami peningkatan?
  1. Kreatif, Tentunya salah satu kebahagian seorang guru adalah ketika apa yang disampaikan di dalam kelas dapat diingat oleh siswanya ketika mereka keluar kelas dan bahkan setelah mereka lulus dari sekolah yang mendidik mereka. Tentunya tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, karena kreatifitas dari guru diperlukan. Misalkan ketika materi yang kita ajarkan kita hubungkan dengan kehidupan mereka sehari-hari, atau dengan menghubungkan dengan konteks emosional siswa sehingga mereka tidak mudah lupa akan pelajaran yang kita sampaikan.
  1. Pembicara, Guru adalah orator atau pembicara yang hebat,hal ini berkaitan erat dengan komunikasi baik dengan siswa, orang tua, dan di tengah-tengah masyarakat. Terkadang sebagai guru kita sering melupakan ini. Jarang sekali seorang guru belajar bagaimana tekniknya supaya ketika dia berbicara didalam kelas siswa menjadi tertarik, bagaimana cara kita berbicara supaya orang yang kita ajak bicara dapat menerima dengan baik apa yang kita sampaikan. Tentunya hal ini ada beberapa ilmu komunikasi yang harus kita kuasai dan tentunya seorang guru dituntut untuk memahami hal tersebut.

Apa yang penulis sampaikan diatas merupakan gambaran dari apa yang penulis alami ketika menjadi guru dan diskusi dengan beberapa guru mengenai profesi yang mereka jalankan serta dari beberapa sumber lain yang penulis baca. Semoga hal ini dapat menjadi masukan bagi para pendidik yang ada di negeri ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. (PEB)

Older Entries