KELUARGA PENDIDIK KARAKTER

Salah satu tujuan utama dalam pendidikan di Indonesia ini adalah bagaimana membentuk karakter dari peserta didik sehingga ketika mereka setelah lulus memiliki karakter yang kuat dalam hidup di masyarakat. Sesungguhnya karakter merupakan salah satu modal dasar dalam membentuk generasi-generasi penerus bangsa. Menurut Pusat Bahasa Kemendikbud, karakter merupkan “bawaan,hati,jiwa,kepribadian, budi pekerti,perilaku, personalitas,sifat,tabiat, tempramen,watak” tentunya dari pengertian itu semua dalam hal yang positif. Karakter itu sendiri berkaitan dengan berbagai hal seperti sikap (attitudes),perilaku (behaviours),motivasi (motivations) dan keterampilan (skills).

Dari keterkaitan tersebut dapat dilihat betapa pentingnya pendidikan karakter dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan dinilai bukan dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh peserta didiknya tetapi bagaimana sekolah tersebut dapat mencetak lulusan-lulusan yang memiliki karakter kuat sebagai modal dasar mereka dalam meraih kesuksesan. Tentunya dari pengalaman kita selama ini kesuksesan seseorang bukan dilihat dari nilai mereka pada saat di bangku sekolah tetapi sejauh mana seorang peserta didik dapat menggali karakter yang luar biasa pada dirinya. Seperti yang kita lihat selama ini banyak sekali orang-orang yang dulunya di sekolah tidak memiliki nilai yang tinggi, dan terlihat biasa-biasa saja tetapi lebih sukses dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya.

Cerminan pendidikan karakter dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari seperti bertutur kata, bersikap,berperilaku dan sebagainya. Pertanyaannya dimanakah sebenarnya karakter itu terbentuk? Apakah sekolah? Lingkungan? Tempat ibadah atau tempat lain? Tentunya semua lembaga tersebut dapat dikatakan sebagai tempat pembentukan karakter seorang manusia tetapi bukanlah yang pertama. Keluarga merupakan lembaga utama yang membentuk karakter seorang anak, karena dikeluargalah seorang anak manusia lahir, disusui, disayang sampai umur 3 tahun tanggung jawab tersebut mulai dialihkan ke PAUD, umur 4-5 tahun ke TK, 6 tahun ke sekolah dasar dan seterusnya. Pertanyaannya sejauhmana keluarga membentuk karakter seorang anak sebelum beralih ke lembaga pendidikan dan apa peran selanjutnya dari sebuah keluarga dalam menanamkan karakter kepada seorang anak?

Ada beberapa peran keluarga dalam pembentukan karakter seorang anak :

  1. Keluarga menjadi tempat curhat pertama

Dulu seorang anak ketika memiliki sebuah masalah atau ada sesuatu hal yang menganjal dihatinya paling dia bercerita pada temannya atau paling tidak menulisnya dalam sebuah buku diary dimana hanya dia yang tahu apa yang dia tulis. Saat ini seorang anak lebih condong untuk mencurahkan kegelisahan hatinya melalui media sosial sehingga semua orang menjadi tahu akan permasalahan yang dihadapi dan begitu cepat meluas. Hal ini tentunya bisa berdampak buruk bagi sang anak karena dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dan sudah banyak kasus yang terjadi akibat hal ini. Seharusnya keluarga menjadi tempat curhatan sejak dini, keluarga harus membiasakan diri untuk saling sharing antara anak dengan orang tua sehingga orang tua dapat mengontrol dan mengetahui perkembangan pemikiran anak-anaknya. Orang tua harus menyediakan waktu benar-benar mendengarkan curhatan seorang anak seperti yang dikampanyekan saat ini yaitu 1921 dimana dari pukul 19.00 – 21.00 orang tua melakukan aktivitas bersama dengan anak dan fokus pada anak dan tidak berkaitan dengan gadget.

  1. Keluarga menjadi sebuah solusi dari sebuah masalah

Terkadang seorang anak ketika menghadapi sebuah kesulitan dan datang kepada orang tuanya menjadi sungkan karena ketika datang melihat orang tuanya sibuk dengan gadget masing-masing sehingga dia mencari solusi ke orang lain atau ke pihak lain seperti teman sebayanya, pembantunya, supirnya, tetangganya sehingga lama-kelamaan anak tersebut lebih menemukan kenyamanan ketika berbicara dengan orang lain daripada keluarganya karena dengan berbicara dengan orang lain dia menemukan solusi tetapi dengan keluarganya sendiri dia tidak mendapatkan apa-apa.

  1. Kebersamaan atau keharmonisan

Seorang anak akan merasa bahagia jika ketika di meja makan atau pada saat menonton TV bersama mereka dapat saling bercerita tentang waktu 1 hari yang mereka lewati baik itu masalah temannya, gurunya, maupun prestasinya di sekolah. Bandingkan jika seorang anak berangkat kesekolah tidak bersalaman dengan salah satu orang tuanya, pulang sekolah dirumah/apartemen hanya ada pembantu,mau main tidak ada teman dan ujung-ujungnya main gadget atau PS yang pada akhirnya anak menjadi penyendiri dan sulit untuk bersosialisasi. Anak-anak seperti ini ketika kelak menjadi dewasa akan menjadi generasi yang minder dan akan selalu dibanyangi ketidaknyaman ketika benar-benar terjun dan hidup dalam bermasyarakat.

  1. Tempat mendapatkan contoh

Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang baik tetapi keluarga seringkali tidak memberi contoh yang baik pada anak-anaknya sedangkan pendidikan contoh merupakan salah satu pendidikan yang paling baik pada anak. Seorang Bapak tidak ingin anaknya merokok tetapi bapaknya merokok di depan anaknya bahkan menyuruh anaknya membeli rokok ke warung. Orang tua harus menjadi contoh bagi anak, hal ini seringkali tidak disadari oleh para orang tua jika sebenarnya anak-anak itu mengidolakan orang tuanya sehingga seorang anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

  1. Pembentuk masa depan anak

Dari semua hal yang disebutkan penulis diatas akan berujung pada satu hal yaitu masa depan anak, seorang anak akan menjadi pejuang keras dalam menghadapi hidupnya jika didik dalam keluarga yang berjuang untuk membentuk masa depan keluarga yang lebih baik dan begitupun sebaliknya dengan kata lain tidak ada tawar menawar bahwa seorang anak terbentuk dari goresan tangan keluarganya khususnya kedua orang tuanya.

 

Advertisements