PENDIDIKAN KARAKTER

Salah satu tujuan utama dalam pendidikan di Indonesia ini adalah bagaimana membentuk karakter dari peserta didik sehingga ketika mereka setelah lulus memiliki karakter yang kuat dalam hidup di masyarakat. Sesungguhnya karakter merupakan salah satu modal dasar dalam membentuk generasi-generasi penerus bangsa. Menurut Pusat Bahasa Kemendikbud, karakter merupkan “bawaan,hati,jiwa,kepribadian, budi pekerti,perilaku, personalitas,sifat,tabiat, tempramen,watak” tentunya dari pengertian itu semua dalam hal yang positif. Karakter itu sendiri berkaitan dengan berbagai hal seperti sikap (attitudes),perilaku (behaviours),motivasi (motivations) dan keterampilan (skills).

Dari keterkaitan tersebut dapat dilihat betapa pentingnya pendidikan karakter dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan dinilai bukan dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh peserta didiknya tetapi bagaimana sekolah tersebut dapat mencetak lulusan-lulusan yang memiliki karakter kuat sebagai modal dasar mereka dalam meraih kesuksesan. Tentunya dari pengalaman kita selama ini kesuksesan seseorang bukan dilihat dari nilai mereka pada saat di bangku sekolah tetapi sejauh mana seorang peserta didik dapat menggali karakter yang luar biasa pada dirinya. Seperti yang kita lihat selama ini banyak sekali orang-orang yang dulunya di sekolah tidak memiliki nilai yang tinggi, dan terlihat biasa-biasa saja tetapi lebih sukses dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya.

Disamping itu, penulis melihat saat ini sudah saatnya pendidikan di Indonesia untuk lebih serius dalam menerapkan pendidikan karakter apalagi jika melihat kondisi bangsa kita saat ini dimana karakter masyarakat di Nusantara ini sudah semakin jelas mulai luntur. Kita lihat saja di berbagai media dimana satu sama lain saling lapor polisi karena masalah ucapan yang pada dasarnya masih bisa di dialogkan secara baik-baik,mudahnya keluar kata-kata kafir, saling menjatuhkan satu dengan yang lain, saling serang antara satu kelompok dengan kelompok lain, munculnya kelompok intoleran, radikalisme dan sebagainya yang selama ini nyaris tidak pernah terdengar di Nusantara ini.

Lembaga pendidikan sudah semestinya menyadari dan memperbaiki hal ini, pendidikan kita saat ini tidak boleh lagi berfokus pada pengetahuan semata tetapi harus pada pembentukan karakter anak bangsa. Pendidik, Tenaga Kependidikan,dan orang tua janganlah merasa hebat jika anaknya mendapat nilai bagus di Matematika, Fisika, Kimia tetapi tidak memiliki karakter sebagai anak bangsa Indonesia. Cerdas/pintar tetapi tidak memiliki karakter merupakan pendidikan yang gagal. Kita lihat saja latar belakang pendidikan orang-orang yang ada di tahanan KPK, pastinya kemampuan pengetahuan mereka sudah tidak diragukan lagi tetapi karena karakter sebagai orang terdidik tidak mereka miliki maka mereka dengan mudah terjerumus pada lembah korupsi.

Saat ini, masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan. Jika kita tidak segera memperbaiki ini semua maka bangsa ini akan mudah dipecah belah. Kembalikan karakter kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi, ramah,Damai, bersahabat, religius, gotong royong, kekeluargaan, Musyawarah untuk mufakat dan berbagai karakter lain yang melekat pada budaya bangsa Indonesia. (PEB)

 

Advertisements

SAYA MEMPUNYAI MURID YANG BANDEL

Pertanyaan:

Saya seorang guru SD yang memiliki seorang murid yang sangat bandel dan sering membuat ribut di kelas. Teman-temanya umumnya takut karena murid itu badanya gempal (kekar). Pada suatu hari, karena jengkel,murid itu terpaksa saya tempeleng. Namun tempelengan saya itu rupanya kurang mempan. Orang tuanyapun ketika saya hubungi rupanya telah kewalahan. Mereka malah menyerahkan 100% kepada saya. Katanya mau diapakan terserah Pak Guru. Terpaksa saya membuka-buka kembali buku pendidikan dan ilmu jiwa. Untuk tambahan pengetahuan dan kecapakan mendidik, mohon bantuan bapak Suhartin bagaimana menurut bapak cara-cara menangani murid saya tersebut.

(SWD,Solo)

Membaca surat pak SWD, saya jadi ingat ketika saya menjadi guru. Pada waktu itu, saya mempunyai murid yang kelewat bandel. Pernah satu kelas murid tidak berani masuk kelas karena jika ada yang masuk akan ditempeleng olehnya. Saya dapat tugas untuk “menggarap“ anak tersebut. Menerima tugas yang berat tersebut, saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal karena bingung. Berhari-hari saya memikirkan teknik apa yang tepat saya gunakan. Akhirnya, saya memutuskan mengajak anak tersebut menonton bioskop dan jajan di restoran. Kebetulan, memang anak tersebut tidak punya masalah apa-apa dengan saya.

Pada suatu sore yang telah kami tentukan, anak tersebut saya ajak nonton bioskop dan setelah menonton saya ajak ke restoran. Sambil makan di restoran inilah saya berdiskusi dengannya. Dalam diskusi ternyata terungkap bahwa tindakannya selama ini sebagai protes terhadapa kebijaksanaan kepala sekolah yang dinilainya tidak betul dan tidak adil.

Setelah saya terangkan maksud kepala sekolah yang sebenarnya baik, ia dapat menerimanya. Ternyata,terdapat salah pengertian antara kepala sekolah dan segolongan murid yang ada dibawah pengaruhnya. Hasil diskusi saya dengan anak tersebut saya laporkan kepada kepala sekolah. Hasilnya semua menjadi beres.

Dalam dunia pendidikan, teknik yang saya gunakan itu disebut teknik konseling. Selain itu, menurut W.D.E Matthews,dkk dalam bukunya yang berjudul School and classroom Management, ada teknik-teknik lain untuk menghadapi anak bandel, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengembangkan tanggung jawab. Kadang-kadang anak menjadi bandel atau nakal semata-mata hanya karena ingin diperhatikan. Oleh karena itu,penanganannya dapat dilakukan dengan cara memberinya tanggung jawab. Sebagi contoh, ia diberi tanggung jawab atas kebersihan di kelas, mengatur barisan, dan sebagainya.
  2. Tidak dibenarkan oleh anak-anak yang lain. Anak yang bandel akan meneruskan kebandelannya jika mendapat dukungan dari anak-anak lain. Oleh karena itu, anak-anak yang lain harus diberi pengertian supaya tidak memberi dukungan tindakan kepada anak itu. Tidak adanya dukungan atau mengalami kehilangan basis sosial (social disapproval) akan memudarkan kebandelannya.
  3. Menggunakan sugesti yang tepat. Sugesti yang tepat tidak perlu langsung kepada anak yang bersangkutan. Sebagai contoh: “ Bapak Guru dan Bapak kepala sekolah akan senang sekali jika anak-anak sekalian berdisiplin, karena dengan demikian sekolah ini akan menjadi maju. “ Sugesti ini tidak secara langsung menyingung perseorangan dan bersifat positif. Sugesti ini pernah diucapkan oleh Laksamana Nelson (Inggris) kepada rakyat Inggris yang semangatnya telah runtuh. Sugestinya yang terkenal tersebut adalah : “ Ibu pertiwi menginginkan setiap putranya mengerjakan tugasnya masing-masing dengan baik.”
  4. Mengugah minat anak. Sering kali kebandelan anak timbul karena cara memilih bahan pelajaran dan cara menyajikan membosankan. Bahan pelajaran dan cara penyajian yang membosankan memiliki potensi untuk melahirkan anak-anak bandel. Oleh karena itu, diperlukan bahan dan cara mengajar berorientasi pada murid (student-oriented). Selain dipilihkan bahan pelajaran yang membawa kegembiraan, kepada anak-anak diberikan tugas-tugas dan kesempatan diskusi. Tugas dan diskusi disukai anak-anak karena memberikan kesempatan berinisiatif dan berkreasi.
  5. Mengurangi atau menghapus hak-hak. Bagi anak-anak, bertugas untuk kelas merupakan hak-hak. Anak-anak yang bandel tidak perlu diberik hak-hak ini. Hak-hak tersebut misalnya menghapus papan, membagikan buku, dan sebagainya. Mengurangi hak-hak pada anak, membuat ia merasa dihukum dengan dikucilkan. Akhirnya, ia akan menghentikan kebandelannya.
  6. Mengeluarkan dari kelompok. Hukuman ini paling berat, yaitu anak itu tidak diakui keanggotaannya di kelas itu. Dengan kata lain, “ tidak diorangkan”. Hukuman ini paling berat sehingga berhati-hatilah jika terpaksa menggunakan cara ini.

Bapak dapat memilih mana yang cocok. Selain itu, mungkin Bapak dapat menemukan teknik-teknik yang lebih baik.

Sumber : Suhartin,R.I.C. Smart Parenting. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2010

GURU HEBAT/PROFESIONAL

Begitu banyak cerita-cerita guru hebat yang sudah pernah kita dengar, dari zamannya Umar Bakri sampai detik ini masih banyak masalah guru yang belum dapat terselesaikan oleh pemerintah padahal guru menjadi ujung tombak dalam sebuah pendidikan. Ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini terdapat tuntutan baru kepada guru yaitu menjadi guru profesional meskipun sebenarnya tuntutan itu agak berlebihan karena bagaimanapun guru sebagai profesi tentunya harus dijalankan secara profesional. Lalu mengapa tuntutan seperti itu muncul dari kalangan masyarakat? Dari beberapa sumber yang penulis baca dan beberapa kenyataan yang penulis lihat sebagai seorang guru, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut muncul seperti :

  1. Guru terkadang tidak mendalami profesinya, profesi guru dipahami hanya sekedar berdiri di depan kelas menyampaikan materi yang ada di buku dan selesai, apalagi guru yang mengajar di dua atau lebih sekolah akan sulit memiliki waktu untuk mendalami profesinya terlebih dalam mendalami materi yang diajarkan. Tidak heran jika ada guru yang ditanya mengenai profesinya sering tidak memahami, berbeda profesi lain seperti pengacara atau dokter dimana jika ditanya mengenai profesinya dia akan menjabarkan dari A-Z secara lengkap.
  2. Sulit berubah dalam menyampaikan materi yang diajarkan khususnya guru yang sudah lama mengajar. Guru tersebut tidak menyadari bahwa zaman sudah berubah, jika dulu murid yang diajar hanya makan nasi, lauk pauk dan sayur sekarang murid yang diajar sudah makan fast food, dulu belajar hanya dari buku sekarang tinggal searching lewat smartphone dan lain sebaigainya termasuk dalam hal perilaku siswa juga sudah berubah tetapi gaya mengajar sang guru juga tidak berubah.
  3. Mengangap profesi guru adalah profesi yang mudah karena hanya mengajar materi yang sama setiap tahun dan tidak ada perubahan sehingga ada kecenderungan apanya yang perlu berubah jika materi yang diajarkan juga sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan hanya mengulang. Tatapi apakah guru pernah melakukan analisis di tahun berapa anak yang dihasilkan dari kelasnya menjadi manusia seutuhnya dan ditahun mana yang gagal dan hanya menjadi beban orang tuanya? Dengan materi pengajaran yang sama.
  4. Terlalu sibuk dengan administrasi demi cairnya sertifikasi, kita semua memahami guru selalu dibebani dengan permasalahan administrasi sedangkan di negara-negara lain guru sudah tidak lagi di bebankan dengan masalah administrasi karena sudah dibantu oleh pihak sekolah dalam mengurus administrasi yang mereka jalani.
  5. Gaptek (gagap teknologi), sedangkan pendidikan tidak pernah lepas dari perkembangan teknologi. Jika dulu mengajar menggunakan sabak, berubah menjadi kapur, lalu spidol dan sekarang mengajar dengan Tablet. Itu merupakan salah satu bukti nyata perubahan teknologi tidak lepas dari dunia pendidikan.

Guru profesional atau saya sebut dengan sebutan guru hebat harus mampu menjawab itu semua. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2013 dikatakan Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Dalam undang-undang ini jelas terlihat betapa beratnya menjadi seorang pendidik apalagi jika masih ditemukan seperti hal-hal yang ada diatas. Untuk itu, guru di zaman sekarang ini tentunya perlu melakukan beberapa hal dalam menjawab tugas berat sebagai pendidik, seperti :

  1. Bertumbuh, Jadilah guru yang selalu bertumbuh dan tidak hanya terpaku pada satu titik dimana anda saat ini, carilah ilmu pengetahuan lain yang dapat mendukung kinerja anda sebagai seorang pendidik. Ini dapat dilakukan melalui training/pelatihan, diskusi dengan guru lain yang sudah lebih dulu bertumbuh, seminar, ataupun dengan melanjutkan pendidikan ke tempat yang lebih tinggi. Saya yakin guru yang bertumbuh dalam segala hal di kelaspun akan selalu bertumbuh dan tentunya akan menghasilkan siswa-siswa yang selalu akan tumbuh.
  1. Rajin, Jadilah guru yang rajin dalam mengenal,mengamati, dan mengevaluasi kemapuan anda dan siswa anda. Apakah metode yang saya pakai dalam mengajar sudah sesuai dengan materi yang saya ajarkan? Gaya belajar seperti apa yang disukai oleh murid saya? Saat ini banyak sekali guru yang tidak mengetahui gaya belajar dari muridnya sehingga tidak jarang ketika guru menerangkan sebuah materi ada siswa yang sibuk dengan dunianya sendiri.
  1. Inovatif, Di zaman ini bagi guru, karyawan, bahkan perusahaan dituntut untuk berinovasi. Kita sudah lihat berapa banyak perusahaan yang pontang panting karena terlambat berinovasi dan berapa banyak perusahaan yang muncul dari sebuah inovasi. Begitupun dengan guru, Inovasi mutlak diperlukan karena itu sudah menjadi tuntutan zaman saat ini. Jika anda terus-menerus mengajar dengan gaya dan pola yang sama apakah siswa anda akan senang belajar dengan anda? Apakah akan tercipta kelas yang menyenangkan dan apakah output yang anda hasilkan akan mengalami peningkatan?
  1. Kreatif, Tentunya salah satu kebahagian seorang guru adalah ketika apa yang disampaikan di dalam kelas dapat diingat oleh siswanya ketika mereka keluar kelas dan bahkan setelah mereka lulus dari sekolah yang mendidik mereka. Tentunya tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, karena kreatifitas dari guru diperlukan. Misalkan ketika materi yang kita ajarkan kita hubungkan dengan kehidupan mereka sehari-hari, atau dengan menghubungkan dengan konteks emosional siswa sehingga mereka tidak mudah lupa akan pelajaran yang kita sampaikan.
  1. Pembicara, Guru adalah orator atau pembicara yang hebat,hal ini berkaitan erat dengan komunikasi baik dengan siswa, orang tua, dan di tengah-tengah masyarakat. Terkadang sebagai guru kita sering melupakan ini. Jarang sekali seorang guru belajar bagaimana tekniknya supaya ketika dia berbicara didalam kelas siswa menjadi tertarik, bagaimana cara kita berbicara supaya orang yang kita ajak bicara dapat menerima dengan baik apa yang kita sampaikan. Tentunya hal ini ada beberapa ilmu komunikasi yang harus kita kuasai dan tentunya seorang guru dituntut untuk memahami hal tersebut.

Apa yang penulis sampaikan diatas merupakan gambaran dari apa yang penulis alami ketika menjadi guru dan diskusi dengan beberapa guru mengenai profesi yang mereka jalankan serta dari beberapa sumber lain yang penulis baca. Semoga hal ini dapat menjadi masukan bagi para pendidik yang ada di negeri ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. (PEB)

DEBAT GUBERNUR

Hotel Bidakara di tanggal 13 Januari 2017 menjadi saksi bisu pelaksanaan debat calon gubernur putaran pertama, diikuti ketiga pasangan calon dan dipandu oleh Ira Koesno memang jika diikuti cukup menarik bahkan bagi saya, ini adalah Debat Gubernur paling menarik di Tahun 2017 ini karena begitu banyak menyedot perhatian masyarakat di Nusantara ini. Hal ini terlihat dari komentar-komentar para netizen di dunia maya yang memberikan komentar padahal mereka punya hak suara juga tidak. Tidak heran jika banyak pengamat yang menyatakan bahwa Jakarta menjadi barometer dari seluruh Pilkada yang dilaksanakan di negeri ini.

Bagi saya pribadi, dari Pilkada tersebut ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya :

  1. Ketiga calon memiliki latar belakang yang berbeda-beda, dari militer, birokrat, dan pendidik. Tentunya hal ini tidak dapat dilepaskan karena bagaimanapun para pemilih akan melihat hal tersebut. Selain itu, para Cawagub juga memiliki latar belakang yang beragam dari birokrat dan pengusaha.
  2. Menurut saya pribadi, calon dari militer agak sedikit mengecewakan karena setahu saya jika seseorang masuk dalam Akademi Militer maka mereka disiapkan menjadi seorang pemimpin dan sebagai seorang pemimpin harus mampu menyampaikan gagasan dan idenya secara gamblang sehingga orang-orang yang dipimpinnya memahami dan mampu mengimplementasikan ide dan gagasan dari sang pemimpin. Paslon no 1 yang notabene adalah lulusan dari Militer seharusnya dapat tampil lebih baik, tidak terlihat gugup, terkesan menghafal dan sepertinya tidak menguasai permasalahan yang akan diperdebatkan. Cawagubnya yang seyogianya berasal dari Birokrasi murni, juga tidak mampu mengimbangi sang Cagub dalam menyampaikan ide dan gagasan mereka bahkan terkesan seperti membaca puisi.
  3. Calan No. 2 yang merupakan petahana bahkan saya bisa sebut sebagai birokrat karena pengalaman mereka yang mumpuni dalam memimpin Jakarta dan hasilnya sangat jelas dilihat dan dirasakan oleh Jakarta dalam Debat terlihat begitu piawai dalam debat tersebut. Ini jelas terlihat jika lawan mereka tidak banyak menyingung masalah data-data konkrit seperti debat sebelumnya yang dilaksanakan oleh salah satu TV swasta.
  4. Anies & Sandi sebagai kandidat no 3 yang berlatar belakang akademisi dan pengusaha dalam debat mengebu-gebu dan bersemangat dalam memaparkan programnya terlihat seperti seorang motivator dan cukup banyak menyingung masalah pendidikan, mungkin karena beliau mantan menteri pendidikan jadi merasa paling menguasai masalah pendidikan sehingga muncullah KJP (Kartu Jakarta Pintar) Plus padahal semua itu sudah dilaksanakan oleh Gubernur petahana. Satu hal yang agak sedikit mengecewakan bagi saya adalah dalam debat tersebut Anies Baswedan tampil sebagai orang berbeda atau dapat dikatakan sama seperti calon gubernur yang sedang bertarung pada umumnya, padahal saya pribadi mengharapkan apa yang diucapkan oleh Anies selama ini menjadi kenyataan yaitu Orang baik maju dalam dunia politik sehingga politik itu menjadi baik tetapi disini terlihat politik adalah politik.

Masih ada debat-debat selanjutnya, harapan saya adalah debat ini akan memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat dan tentunya hari nurani masyarakat bebas memilih dari ketiga kandidat yang ada. (PEB)

 

KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara kembali mencoreng dunia pendidikan di Indonesia. Ini sudah terjadi yang ketiga kali terjadi di STIP dan tentunya hal ini menunjukkan bahwa kekerasan di STIP belumlah hilang dan air mata orang tua kembali menetes melihat anak pulang tak bernyawa dan orang tua pelaku tertunduk lesu dan malu melihat anak mereka mengenakan seragam tahanan polisi sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatan mereka.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekolah kedinasan sering diwarnai tindakan kekerasan atau sering disebut pendidikan semi militer dengan harapan taruna akan menjadi manusia yang tangguh ketika mereka benar-benar telah terjun dalam dunia pekerjaan mereka sesungguhnya. Sudah beberapa kali juga terjadi kekerasan di beberapa sekolah kedinasan yang ada di Nusantara ini dan beberapa sekolah kedinasan yang berada dibawah kementerian juga menyatakan bahwa mereka sudah membuat SOP baru dalam menghindari tindakan kekerasan di dalam lingkungan kampus termasuk Kementerian Perhubungan yang membawahi STIP.

Tewasnya Taruna di STIP yang baru-baru ini terjadi merupakan bukti bahwa tidak sepernuhnya tindakan kekerasan tersebut hilang dan hal ini menjadi sebuah bukti bahwa SOP dan strategi yang dibuat Kementerian Perhubungan telah gagal dalam melakukan pencegahan tindakan kekerasan dalam lingkungan kampus STIP.

Tindakan kekerasan sepertinya sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari STIP, oleh karena itu seharusnya dilakukan tindakan tegas oleh kementerian yang membawahi STIP. Tidak cukup dengan mencopot kepala STIP tetapi harus membuat tindakan tegas dengan memutus rantai kekerasan di dunia STIP dengan menghentikan penerimaan taruna baru hingga semua taruna yang ada sekarang lulus. Taruna baru yang diterima harus diberikan doktrin baru untuk tidak menggunakan kekerasan dalam mendidik mental tangguh seorang taruna termasuk dalam memberikan hukuman jika seorang taruna melakukan kesalahan. Mental dapat didik dengan metode-metode baru yang lebih positif termasuk dengan mendidik kembali paran tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam mempersiapkan taruna yang hebat dan tangguh tanpa diikuti dengan kekerasan.

Kita ketahui bersama bahawa taruna-taruna yang ada di STIP merupakan pemudah-pemuda pilihan dan mengikuti seleksi yang ketat ketika masuk STIP, alangkah sayangnya jika mereka kehilangan nyawa atau menjadi seorang terpidana ketika mereka menempuh pendidikan di lingkungan kampus padahal di depan mereka ada masa depan yang cerah menunggu mereka. (PEB)

TIPS MENGAJAR

Bagi saya pribadi mengajar itu adalah sebuah seni, beraneka macam gaya dan metode mengajar yang ada hingga saat ini bukanlah sesuatu hal yang mutlak karena pada dasarnya pendidikan itu sendiri bersifat dinamis. Dari pengalaman sebagai seorang pendidik, berikut ini ada beberapa tips yang dapat dilakukan ketika kita mengajar :

  1. Persiapan. Satu hari sebelumnya atau malam sebelum kita mengajar sebaiknya siapkan materi yang akan kita ajarkan karena kesuksesan kita dalam melaksanakan pembelajaran adalah persiapan, persiapan, dan persiapan. Tanpa persiapan yang baik jangan berharap proses pembelajaran berjalan dengan baik meskipun kita sudah menjadi guru senior dan berulang kali mengajarkan materi yang sama tetapi kita harus ingat mengajar kepada orang yang berbeda tentunya harus dengan cara dan persiapan yang berbeda juga.
  2. Mencari referensi lain, Sebaiknya kita jangan hanya mengacu pada buku pelajaran semata saja tetapi sebaiknya kita mencari sumber-sumber lain yang relevan dengan materi yang kita ajarkan, selain untuk menambah wawasan kita sebagai seorang pendidik tentunya secara tidak langsung akan menambah pengetahuan peserta didik kita juga.
  3. Menyiapkan video atau gambar yang berkaitan dengan materi, Supaya proses pembelajaran lebih menarik sebaiknya ditambahkan dengan video atau gambar yang berkaitan dengan materi pelajaran yang kita ajarkan sehingga peserta didik tidak jenuh dengan hanya membaca tulisan-tulisan yang ada di papan tulis atau slide yang telah kita siapkan.
  4. Siapkan Humor. Suasana kelas diusahakan serileks mungkin dan humor menjadi senjata ampuh untuk itu. Kita tidak perlu pintar melawak untuk mencairkan suasana. Humor dapat berupa gambar lucu atau video lucu yang pasti dapat membuat suasana kelas tidak terlalu tegang.
  5. Minum air putih. Mengajar itu melelahkan meskipun banyak orang yang meragukan itu dan tentunya kita perlu untuk menjaga kondisi tubuh kita tetap sehat dan fit supaya dapat terus mengajar peserta didik kita. Salah satu yang mudah tetapi sering dilupakan adalah banyak minum air putih baik sebelum mengajar ataupun sesudah selesai mengajar.
  6. Motivasi diri. Rasa lelah dan malas sebagai manusia biasa tentunya pasti ada dalam diri sebagai seorang pendidik, oleh karena itu seorang pendidik harus dapat memotivasi dirinya sendiri karena bagaimanapun motivator terbaik adalah diri kita sendiri. Jika mood kita sedang turun berkatalah pada diri sendiri : “ Aku seorang pendidik dan mengajar adalah tanggung jawabku”.
  7. Metode pembelajaran. Gunakan metode pembelajaran yang bervariasi, kita harus menyadari seorang anak belajar di sekolah antara 7 – 8 Jam/hari dan jika mereka merima pembelajaran dengan metode yang sama dalam setiap mata pelajaran, jangankan mereka, orang dewasapun akan cepat jenuh dan pastinya hasilnya tidak akan maksimal.

Semoga Bermanfaat. (PEB)

KURIKULUM PENDIDIKAN NONFORMAL

Sesuai dengan undang-undang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) No. 20 Tahun 2003 dikatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Saat ini, dalam dunia pendidikan formal pada tahun ajaran yang selanjutnya 2017/2018 menurut informasi yang penulis terima akan menggunakan kurikulum 2013 versi revisi. Tentunya dengan berlakunya kurikulum ini akan sedikit memberikan kejelasan akan pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah setelah sekian lama dirundung oleh ketidak jelasan akan kurikulum yang akan digunanakan.

Jika di pendidikan formal sudah jelas, bagaimana pendidikan nonformal? Apakah kurikulum yang akan digunakan sudah jelas? Akankah mengikuti pendidikan formal dengan keterbatasan yang dimiliki?  Sejauh ini penulis belum melihat kejelasan dari kurikulum pendidikan yang akan digunakan oleh pendidikan nonformal tetapi menurut penulis, kurikulum pendidikan nonformal harus berdiri sendiri. Selama ini sesuai dengan pengalaman penulis pada pendidikan nonformal hampir semua sama persis dengan pendidikan formal karena tujuannya sama yaitu lulus ujian akhir (Ujian Nasional/Ujian Pendidikan Kesetaraan) untuk mendapatkan ijasah.

Pendidikan Non formal seyogianya memiliki kurikulum tersendiri, kurikulum yang berbeda dengan pendidikan formal. Kurikulum pendidikan non formal sebaiknya diarahkan pada pendidikan yang mengarahkan akan kebutuhan dari warga belajaranya dan tidak dapat dipukul rata layaknya pendidikan formal. Dalam kurikulum pendidikan non formal diarahkan pada implementasi kebutuhan mereka dalam meningkatkan life skill mereka. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa latar belakang warga belajar yang ada di satuan pendidikan nonformal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Rumah Belajar, Yayasan, kursus, dll berbeda-beda sesuai komunitas dari satuan pendidikan tersebut berdiri.

Sebagai contoh jika PKBM tersebut berada dalam komunitas pertanian maka kurikulum mereka seharusnya berisi bagaimana meningkatkan skill yang telah mereka miliki sehingga hasil pertanian mereka dapat lebih baik. Jika komunitas PKBM tersebut berdiri di tengah perkotaan seharusnya diberikan kurikulum yang berisikan skill yang dapat digunakan untuk dapat bertahan dalam kehidupan mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan mengasah talenta yang telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka seperti jika dia memiliki bakat musik, berikan kurikulum yang dapat meningkatkan bakatnya tersebut sehingga jika dia menjadi seorang pengamen maka dia akan bernyanyi atau bermain musik dengan lebih baik. Syukur-syukur bisa menjadi penyanyi terkenal.

Pada dasarnya kurikulum yang digunakan oleh pendidikan nonformal harus sesuai dengan kebutuhan dari warga belajar. Warga belajar tidak membutuhkan teori-teori fisika, kimia, dan lain sebagainya karena mereka sudah stres dalam memperjuangkan kehidupannnya ditambah lagi dengan teori-teori tersebut maka tujuan pendidikan tidak akan tercapai. Selain itu kurikulum difokuskan pada skill dari warga belajar. Skill disini jangan hanya dipandang sebagai keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan uang tetapi harus bermakna luas.  Selama ini pemerintah hanya melihat sebatas kemampuan warga belajar dalam mencari uang tetapi sebenarnya skill itu lebih dari itu seperti kemampuan berbahasa, memahami toleransi, belajar saling menghormati, belajar berdemokrasi, menghargai perbedaan, belajar mengecek kebenaran sebuah berita, etika bermedia sosial, belajar berlalu lintas karena selama ini kita dituntut untuk lulus ujian jika kita ingin berkendara tetapi tidak ada pelajaran yang mengarah kesana dan lain sebagainya yang sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat.

Mungkin hal ini merupakan hal sepele, tetapi lihat dampaknya di sekeliling kita. Hampir setiap hari penulis melihat pelanggaran rambu lalu lintas, betapa mudahnya masyarakat tersulut emosinya ketika membaca sebuah berita yang kebenarannya belum jelas, caci maki di media sosial, berita hoak dari beberapa website dan sebagainya. Untuk saat ini pendidikan formal belum mampu untuk diarahkan kesana karena sudah memiliki kurikulum yang dapat dikatakan sudah melekat dengan isinya yang berbau-bau sains dan pendidikan nonformallah yang memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam bidang itu tentunya dengan membuat kurikulum tersendiri dan tidak tergantung hanya pada kurikulum pemerintah semata. (PEB)