MEMBACA

Leave a comment

Seperti yang sering kita saksikan dalam perjalanan kepemimpinan Presiden Jokowi dimana sering menyampaikan pesan dengan tindakan-tindakan dengan penuh makna. Seperti halnya dengan membeli beberapa burung di Pasar Pramuka Jakarta dan melepaskannya di kompleks istana bogor, pada malam tahun baru hanya duduk dengan menggunakan sarung di depan rumah, mengunjungi proyek yang mangkrak pada pemerintahan sebelumnya dan lain sebagainya yang dilakukan dengan tujuan memberikan pesan kepada berbagai pihak akan permasalahan tertentu.

Hal yang sama juga beliau lakukan ketika berkunjung ke Ambon pada hari Rabu yang lalu dimana dia melakukan rangkaian kunjungannya dengan mengunjungi sebuah toko buku terkenal dan membeli dua buah buku. Apa yang dilakukan Jokowi tentunya menyimpan makna dimana dia mengatakan “minat baca masyarakat kita rendah dan perlu dilakukan injeksi” dan apa yang disampaikan beliau itu memang benar. Dalam sebuah penelitian oleh lembaga internasional, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Menurut lembaga tersebut dari 65 negara, Indonesia menempati urutan yang ke 64. Jika dianalogikan minat baca itu seperti sebuah gedung pencakar langit maka Indonesia itu merupakan bagian basement gedung tersebut.

Dengan kunjungan Jokowi ke toko buku merupakan salah satu injeksi bagi masyarakat bahwa kita perlu meningkatkan daya baca dan tentunya hal tersebut harus kita respon cepat, dengan menggalakkan minat baca untuk semua lapisan masyarakat seperti harapan pak Presiden karena itu bagian dari mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam hal ini dengan harapan apa yang diharapakan oleh pak Presiden dapat tercapai dan minat baca masyarakat dapat meningkat. Membaca memiliki manfaat yang sangat besar bagi seseorang, dapat mengetahui berbagai hal yang terjadi di dunia, memberikan inspirasi dan bisa juga digunakan sebagai salah satu alternatif soluisi dalam mengatasi kecanduan anak akan gadget, menghindarkan diri dari berita-berita hoak yang merajarela dan lain sebagainya, oleh karena itu sudah saatnya kita untuk lebih sering membaca khususnya buku.Mari Membaca. (PEB)

Advertisements

ORANG KREATIF

Leave a comment

Banyak peneliti yang telah mempelajari tentang orang kreatif, dengan tujuan untuk mencari persamaannya dan mencoba mencari tahu hal-hal apa saja yang membentuk orang-orang kreativitas. Sebagian besar peneliti menunjukkan empat ciri khas orang kreatif :

Keberanian – Orang kreatif berani menghadapi tantangan baru dan bersedia menghadapi risiko kegagalan. Mereka penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Richard L. Weaver II, dosen di Universitas Bowling Green, pernah berkata, kreativitas berarti kemauan berwisata di suatu wilayah yang baru.

Ekspresif – Orang kreatif tidak takut menyatakan pemikiran dan perasaannya. Mereka menjadi dirinya sendiri. T.J Twitchell, konsultan keuangan di Merrill-Lynch, mengatasi kecemasannya akan cold – calling (menelepon konsumen untuk menawarkan jasa atau barang) dengan cara berdiri dang mengenakan topi penerbang bergaya pemain bisbol. Dengan demikian, dia dapat menganggap cold – calling sebagai suatu petualangan dan membantu dia menjadi salah satu pialang paling top di Merrill-Lynch.

Humor – Humor berkaitan erat dengan kreativitas. Jadi kita menggabungkan hal-hal sedemikian rupa sehingga menjadi berbeda, tak terduga, dan tidak lazim, berarti kita bermain-main dengan humor. Menggabungkan berbagai hal dengan cara yang baru dan bermanfaat akan menghasilkan kreativitas.

Intuisi – Orang kreatif menerima intuisi sebagai aspek wajar dalam kepribadiannya. Mereka paham bahwa intuisi umumnya berasal dari sifat otak kanan, yang memiliki pola komunikasi berbeda dengan belahan-otak kiri.

Ciri psikologis lain yang umumnya dimiliki orang kreatif yang diidentifikasikan David N.Perkins, Wakil Direktur Project Zero di Universitas Harvard, adalah :

  • Dorongan untuk menemukan keteraturan dalam keadaan kacau balau
  • Minat menemukan masalah yang tidak umum, juga penyelesaiannya
  • Kemampuan membentuk kaitan-kaitan baru, dan menentang anggapan tradisional
  • Kemampuan menyeimbangkan kreasi gagasan dengan pengujian dan penilaian
  • Hasrat untuk melenyapkan berbagai hal yang membatasi kemampuan mereka
  • Termotivasi oleh masalah/tugas itu sendiri, bukannya oleh keuntungan lain, seperti uang, jabatan, atau popularitas

Sifat-sifat diatas dapat diajarkan dan ditumbuhkan, tetapi sistem pendidikan kita dewasa ini sudah sangat disibukkan oleh keterbatasan anggaran dan masalah sosio-ekonomi, seperti narkoba, putus sekolah, dan kejenuhan guru sehingga belum cukup perhatian dicurahkan untuk mengajar murid berpikir dan bertindak lebih kreatif. Murid tidak dirangsang untuk menemukan dan mendefinisikan masalahnya sendiri, kekacauan tidak dianjurkan. Murid tidak diajari mencari dan menghargai lebih dari satu jawaban terhadap masalah. Terlalu banyak penekananan pada jawaban yang benar dan pemikirian yang “aman”.

Secara alamiah, anak-anak itu kreatif, tidak konvensional (tidak mengikuti adat),penuh humor, dan mudah bosan. Sistem pendidikan kita menganjurkan disiplin, keptuhan, dan pemberian jawaban yang sesuai dengan keinginan guru sehingga sifat-sifat alami tersebut sering padam.

Sistem seko­­­­­lah yang menginginkan keteraturan dan kedisiplinan, serta anak yang menyesuaikan diri dengan sistem agar terhindar dari kegagalan dan tertawaan, akhirnya membentuk lingkungan yang sedang-sedang (mediocrity). Rasa takut gagal mulai mendominiasi sifat ingin tahu yang alami pada anak. Pelatihan kreativitas dapat menghapus akibat negatif sistem pendidikan kita, serta memungkinkan seseorang kembali ke sifat unik yang alamni pada dirinya.

Apabila seseorang telah menemukan kreativitasnya, mereka cenderung menjadi mandiri, percaya diri, berani mengambil risiko, berenergi tinggi, antusias, spontan, suka berpetualang, cermat, selalu ingin tahu, humoris, suka bermain, dan polos seperti anak-anak.

Walaupun mengenali sifat-sifat yang mendorong kreativitas merupakan hal yang penting. Lebih penting lagi mengingat bahwa kita semua terlahir dengan kemampuan mencipta. Memahami proses kreativitas dapat meningkatkan kemampuan kreatif kita.

Sumber : Wycoff, Joyce, Menjadi super kreatif melalui pemetaan pemikiran, 2003

PENDIDIKAN KARAKTER

Leave a comment

Salah satu tujuan utama dalam pendidikan di Indonesia ini adalah bagaimana membentuk karakter dari peserta didik sehingga ketika mereka setelah lulus memiliki karakter yang kuat dalam hidup di masyarakat. Sesungguhnya karakter merupakan salah satu modal dasar dalam membentuk generasi-generasi penerus bangsa. Menurut Pusat Bahasa Kemendikbud, karakter merupkan “bawaan,hati,jiwa,kepribadian, budi pekerti,perilaku, personalitas,sifat,tabiat, tempramen,watak” tentunya dari pengertian itu semua dalam hal yang positif. Karakter itu sendiri berkaitan dengan berbagai hal seperti sikap (attitudes),perilaku (behaviours),motivasi (motivations) dan keterampilan (skills).

Dari keterkaitan tersebut dapat dilihat betapa pentingnya pendidikan karakter dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan dinilai bukan dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh peserta didiknya tetapi bagaimana sekolah tersebut dapat mencetak lulusan-lulusan yang memiliki karakter kuat sebagai modal dasar mereka dalam meraih kesuksesan. Tentunya dari pengalaman kita selama ini kesuksesan seseorang bukan dilihat dari nilai mereka pada saat di bangku sekolah tetapi sejauh mana seorang peserta didik dapat menggali karakter yang luar biasa pada dirinya. Seperti yang kita lihat selama ini banyak sekali orang-orang yang dulunya di sekolah tidak memiliki nilai yang tinggi, dan terlihat biasa-biasa saja tetapi lebih sukses dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya.

Disamping itu, penulis melihat saat ini sudah saatnya pendidikan di Indonesia untuk lebih serius dalam menerapkan pendidikan karakter apalagi jika melihat kondisi bangsa kita saat ini dimana karakter masyarakat di Nusantara ini sudah semakin jelas mulai luntur. Kita lihat saja di berbagai media dimana satu sama lain saling lapor polisi karena masalah ucapan yang pada dasarnya masih bisa di dialogkan secara baik-baik,mudahnya keluar kata-kata kafir, saling menjatuhkan satu dengan yang lain, saling serang antara satu kelompok dengan kelompok lain, munculnya kelompok intoleran, radikalisme dan sebagainya yang selama ini nyaris tidak pernah terdengar di Nusantara ini.

Lembaga pendidikan sudah semestinya menyadari dan memperbaiki hal ini, pendidikan kita saat ini tidak boleh lagi berfokus pada pengetahuan semata tetapi harus pada pembentukan karakter anak bangsa. Pendidik, Tenaga Kependidikan,dan orang tua janganlah merasa hebat jika anaknya mendapat nilai bagus di Matematika, Fisika, Kimia tetapi tidak memiliki karakter sebagai anak bangsa Indonesia. Cerdas/pintar tetapi tidak memiliki karakter merupakan pendidikan yang gagal. Kita lihat saja latar belakang pendidikan orang-orang yang ada di tahanan KPK, pastinya kemampuan pengetahuan mereka sudah tidak diragukan lagi tetapi karena karakter sebagai orang terdidik tidak mereka miliki maka mereka dengan mudah terjerumus pada lembah korupsi.

Saat ini, masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan. Jika kita tidak segera memperbaiki ini semua maka bangsa ini akan mudah dipecah belah. Kembalikan karakter kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi, ramah,Damai, bersahabat, religius, gotong royong, kekeluargaan, Musyawarah untuk mufakat dan berbagai karakter lain yang melekat pada budaya bangsa Indonesia. (PEB)

 

SAYA MEMPUNYAI MURID YANG BANDEL

Leave a comment

Pertanyaan:

Saya seorang guru SD yang memiliki seorang murid yang sangat bandel dan sering membuat ribut di kelas. Teman-temanya umumnya takut karena murid itu badanya gempal (kekar). Pada suatu hari, karena jengkel,murid itu terpaksa saya tempeleng. Namun tempelengan saya itu rupanya kurang mempan. Orang tuanyapun ketika saya hubungi rupanya telah kewalahan. Mereka malah menyerahkan 100% kepada saya. Katanya mau diapakan terserah Pak Guru. Terpaksa saya membuka-buka kembali buku pendidikan dan ilmu jiwa. Untuk tambahan pengetahuan dan kecapakan mendidik, mohon bantuan bapak Suhartin bagaimana menurut bapak cara-cara menangani murid saya tersebut.

(SWD,Solo)

Membaca surat pak SWD, saya jadi ingat ketika saya menjadi guru. Pada waktu itu, saya mempunyai murid yang kelewat bandel. Pernah satu kelas murid tidak berani masuk kelas karena jika ada yang masuk akan ditempeleng olehnya. Saya dapat tugas untuk “menggarap“ anak tersebut. Menerima tugas yang berat tersebut, saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal karena bingung. Berhari-hari saya memikirkan teknik apa yang tepat saya gunakan. Akhirnya, saya memutuskan mengajak anak tersebut menonton bioskop dan jajan di restoran. Kebetulan, memang anak tersebut tidak punya masalah apa-apa dengan saya.

Pada suatu sore yang telah kami tentukan, anak tersebut saya ajak nonton bioskop dan setelah menonton saya ajak ke restoran. Sambil makan di restoran inilah saya berdiskusi dengannya. Dalam diskusi ternyata terungkap bahwa tindakannya selama ini sebagai protes terhadapa kebijaksanaan kepala sekolah yang dinilainya tidak betul dan tidak adil.

Setelah saya terangkan maksud kepala sekolah yang sebenarnya baik, ia dapat menerimanya. Ternyata,terdapat salah pengertian antara kepala sekolah dan segolongan murid yang ada dibawah pengaruhnya. Hasil diskusi saya dengan anak tersebut saya laporkan kepada kepala sekolah. Hasilnya semua menjadi beres.

Dalam dunia pendidikan, teknik yang saya gunakan itu disebut teknik konseling. Selain itu, menurut W.D.E Matthews,dkk dalam bukunya yang berjudul School and classroom Management, ada teknik-teknik lain untuk menghadapi anak bandel, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengembangkan tanggung jawab. Kadang-kadang anak menjadi bandel atau nakal semata-mata hanya karena ingin diperhatikan. Oleh karena itu,penanganannya dapat dilakukan dengan cara memberinya tanggung jawab. Sebagi contoh, ia diberi tanggung jawab atas kebersihan di kelas, mengatur barisan, dan sebagainya.
  2. Tidak dibenarkan oleh anak-anak yang lain. Anak yang bandel akan meneruskan kebandelannya jika mendapat dukungan dari anak-anak lain. Oleh karena itu, anak-anak yang lain harus diberi pengertian supaya tidak memberi dukungan tindakan kepada anak itu. Tidak adanya dukungan atau mengalami kehilangan basis sosial (social disapproval) akan memudarkan kebandelannya.
  3. Menggunakan sugesti yang tepat. Sugesti yang tepat tidak perlu langsung kepada anak yang bersangkutan. Sebagai contoh: “ Bapak Guru dan Bapak kepala sekolah akan senang sekali jika anak-anak sekalian berdisiplin, karena dengan demikian sekolah ini akan menjadi maju. “ Sugesti ini tidak secara langsung menyingung perseorangan dan bersifat positif. Sugesti ini pernah diucapkan oleh Laksamana Nelson (Inggris) kepada rakyat Inggris yang semangatnya telah runtuh. Sugestinya yang terkenal tersebut adalah : “ Ibu pertiwi menginginkan setiap putranya mengerjakan tugasnya masing-masing dengan baik.”
  4. Mengugah minat anak. Sering kali kebandelan anak timbul karena cara memilih bahan pelajaran dan cara menyajikan membosankan. Bahan pelajaran dan cara penyajian yang membosankan memiliki potensi untuk melahirkan anak-anak bandel. Oleh karena itu, diperlukan bahan dan cara mengajar berorientasi pada murid (student-oriented). Selain dipilihkan bahan pelajaran yang membawa kegembiraan, kepada anak-anak diberikan tugas-tugas dan kesempatan diskusi. Tugas dan diskusi disukai anak-anak karena memberikan kesempatan berinisiatif dan berkreasi.
  5. Mengurangi atau menghapus hak-hak. Bagi anak-anak, bertugas untuk kelas merupakan hak-hak. Anak-anak yang bandel tidak perlu diberik hak-hak ini. Hak-hak tersebut misalnya menghapus papan, membagikan buku, dan sebagainya. Mengurangi hak-hak pada anak, membuat ia merasa dihukum dengan dikucilkan. Akhirnya, ia akan menghentikan kebandelannya.
  6. Mengeluarkan dari kelompok. Hukuman ini paling berat, yaitu anak itu tidak diakui keanggotaannya di kelas itu. Dengan kata lain, “ tidak diorangkan”. Hukuman ini paling berat sehingga berhati-hatilah jika terpaksa menggunakan cara ini.

Bapak dapat memilih mana yang cocok. Selain itu, mungkin Bapak dapat menemukan teknik-teknik yang lebih baik.

Sumber : Suhartin,R.I.C. Smart Parenting. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2010

GURU HEBAT/PROFESIONAL

Leave a comment

Begitu banyak cerita-cerita guru hebat yang sudah pernah kita dengar, dari zamannya Umar Bakri sampai detik ini masih banyak masalah guru yang belum dapat terselesaikan oleh pemerintah padahal guru menjadi ujung tombak dalam sebuah pendidikan. Ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini terdapat tuntutan baru kepada guru yaitu menjadi guru profesional meskipun sebenarnya tuntutan itu agak berlebihan karena bagaimanapun guru sebagai profesi tentunya harus dijalankan secara profesional. Lalu mengapa tuntutan seperti itu muncul dari kalangan masyarakat? Dari beberapa sumber yang penulis baca dan beberapa kenyataan yang penulis lihat sebagai seorang guru, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut muncul seperti :

  1. Guru terkadang tidak mendalami profesinya, profesi guru dipahami hanya sekedar berdiri di depan kelas menyampaikan materi yang ada di buku dan selesai, apalagi guru yang mengajar di dua atau lebih sekolah akan sulit memiliki waktu untuk mendalami profesinya terlebih dalam mendalami materi yang diajarkan. Tidak heran jika ada guru yang ditanya mengenai profesinya sering tidak memahami, berbeda profesi lain seperti pengacara atau dokter dimana jika ditanya mengenai profesinya dia akan menjabarkan dari A-Z secara lengkap.
  2. Sulit berubah dalam menyampaikan materi yang diajarkan khususnya guru yang sudah lama mengajar. Guru tersebut tidak menyadari bahwa zaman sudah berubah, jika dulu murid yang diajar hanya makan nasi, lauk pauk dan sayur sekarang murid yang diajar sudah makan fast food, dulu belajar hanya dari buku sekarang tinggal searching lewat smartphone dan lain sebaigainya termasuk dalam hal perilaku siswa juga sudah berubah tetapi gaya mengajar sang guru juga tidak berubah.
  3. Mengangap profesi guru adalah profesi yang mudah karena hanya mengajar materi yang sama setiap tahun dan tidak ada perubahan sehingga ada kecenderungan apanya yang perlu berubah jika materi yang diajarkan juga sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan hanya mengulang. Tatapi apakah guru pernah melakukan analisis di tahun berapa anak yang dihasilkan dari kelasnya menjadi manusia seutuhnya dan ditahun mana yang gagal dan hanya menjadi beban orang tuanya? Dengan materi pengajaran yang sama.
  4. Terlalu sibuk dengan administrasi demi cairnya sertifikasi, kita semua memahami guru selalu dibebani dengan permasalahan administrasi sedangkan di negara-negara lain guru sudah tidak lagi di bebankan dengan masalah administrasi karena sudah dibantu oleh pihak sekolah dalam mengurus administrasi yang mereka jalani.
  5. Gaptek (gagap teknologi), sedangkan pendidikan tidak pernah lepas dari perkembangan teknologi. Jika dulu mengajar menggunakan sabak, berubah menjadi kapur, lalu spidol dan sekarang mengajar dengan Tablet. Itu merupakan salah satu bukti nyata perubahan teknologi tidak lepas dari dunia pendidikan.

Guru profesional atau saya sebut dengan sebutan guru hebat harus mampu menjawab itu semua. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2013 dikatakan Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Dalam undang-undang ini jelas terlihat betapa beratnya menjadi seorang pendidik apalagi jika masih ditemukan seperti hal-hal yang ada diatas. Untuk itu, guru di zaman sekarang ini tentunya perlu melakukan beberapa hal dalam menjawab tugas berat sebagai pendidik, seperti :

  1. Bertumbuh, Jadilah guru yang selalu bertumbuh dan tidak hanya terpaku pada satu titik dimana anda saat ini, carilah ilmu pengetahuan lain yang dapat mendukung kinerja anda sebagai seorang pendidik. Ini dapat dilakukan melalui training/pelatihan, diskusi dengan guru lain yang sudah lebih dulu bertumbuh, seminar, ataupun dengan melanjutkan pendidikan ke tempat yang lebih tinggi. Saya yakin guru yang bertumbuh dalam segala hal di kelaspun akan selalu bertumbuh dan tentunya akan menghasilkan siswa-siswa yang selalu akan tumbuh.
  1. Rajin, Jadilah guru yang rajin dalam mengenal,mengamati, dan mengevaluasi kemapuan anda dan siswa anda. Apakah metode yang saya pakai dalam mengajar sudah sesuai dengan materi yang saya ajarkan? Gaya belajar seperti apa yang disukai oleh murid saya? Saat ini banyak sekali guru yang tidak mengetahui gaya belajar dari muridnya sehingga tidak jarang ketika guru menerangkan sebuah materi ada siswa yang sibuk dengan dunianya sendiri.
  1. Inovatif, Di zaman ini bagi guru, karyawan, bahkan perusahaan dituntut untuk berinovasi. Kita sudah lihat berapa banyak perusahaan yang pontang panting karena terlambat berinovasi dan berapa banyak perusahaan yang muncul dari sebuah inovasi. Begitupun dengan guru, Inovasi mutlak diperlukan karena itu sudah menjadi tuntutan zaman saat ini. Jika anda terus-menerus mengajar dengan gaya dan pola yang sama apakah siswa anda akan senang belajar dengan anda? Apakah akan tercipta kelas yang menyenangkan dan apakah output yang anda hasilkan akan mengalami peningkatan?
  1. Kreatif, Tentunya salah satu kebahagian seorang guru adalah ketika apa yang disampaikan di dalam kelas dapat diingat oleh siswanya ketika mereka keluar kelas dan bahkan setelah mereka lulus dari sekolah yang mendidik mereka. Tentunya tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, karena kreatifitas dari guru diperlukan. Misalkan ketika materi yang kita ajarkan kita hubungkan dengan kehidupan mereka sehari-hari, atau dengan menghubungkan dengan konteks emosional siswa sehingga mereka tidak mudah lupa akan pelajaran yang kita sampaikan.
  1. Pembicara, Guru adalah orator atau pembicara yang hebat,hal ini berkaitan erat dengan komunikasi baik dengan siswa, orang tua, dan di tengah-tengah masyarakat. Terkadang sebagai guru kita sering melupakan ini. Jarang sekali seorang guru belajar bagaimana tekniknya supaya ketika dia berbicara didalam kelas siswa menjadi tertarik, bagaimana cara kita berbicara supaya orang yang kita ajak bicara dapat menerima dengan baik apa yang kita sampaikan. Tentunya hal ini ada beberapa ilmu komunikasi yang harus kita kuasai dan tentunya seorang guru dituntut untuk memahami hal tersebut.

Apa yang penulis sampaikan diatas merupakan gambaran dari apa yang penulis alami ketika menjadi guru dan diskusi dengan beberapa guru mengenai profesi yang mereka jalankan serta dari beberapa sumber lain yang penulis baca. Semoga hal ini dapat menjadi masukan bagi para pendidik yang ada di negeri ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. (PEB)

DEBAT GUBERNUR

Leave a comment

Hotel Bidakara di tanggal 13 Januari 2017 menjadi saksi bisu pelaksanaan debat calon gubernur putaran pertama, diikuti ketiga pasangan calon dan dipandu oleh Ira Koesno memang jika diikuti cukup menarik bahkan bagi saya, ini adalah Debat Gubernur paling menarik di Tahun 2017 ini karena begitu banyak menyedot perhatian masyarakat di Nusantara ini. Hal ini terlihat dari komentar-komentar para netizen di dunia maya yang memberikan komentar padahal mereka punya hak suara juga tidak. Tidak heran jika banyak pengamat yang menyatakan bahwa Jakarta menjadi barometer dari seluruh Pilkada yang dilaksanakan di negeri ini.

Bagi saya pribadi, dari Pilkada tersebut ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya :

  1. Ketiga calon memiliki latar belakang yang berbeda-beda, dari militer, birokrat, dan pendidik. Tentunya hal ini tidak dapat dilepaskan karena bagaimanapun para pemilih akan melihat hal tersebut. Selain itu, para Cawagub juga memiliki latar belakang yang beragam dari birokrat dan pengusaha.
  2. Menurut saya pribadi, calon dari militer agak sedikit mengecewakan karena setahu saya jika seseorang masuk dalam Akademi Militer maka mereka disiapkan menjadi seorang pemimpin dan sebagai seorang pemimpin harus mampu menyampaikan gagasan dan idenya secara gamblang sehingga orang-orang yang dipimpinnya memahami dan mampu mengimplementasikan ide dan gagasan dari sang pemimpin. Paslon no 1 yang notabene adalah lulusan dari Militer seharusnya dapat tampil lebih baik, tidak terlihat gugup, terkesan menghafal dan sepertinya tidak menguasai permasalahan yang akan diperdebatkan. Cawagubnya yang seyogianya berasal dari Birokrasi murni, juga tidak mampu mengimbangi sang Cagub dalam menyampaikan ide dan gagasan mereka bahkan terkesan seperti membaca puisi.
  3. Calan No. 2 yang merupakan petahana bahkan saya bisa sebut sebagai birokrat karena pengalaman mereka yang mumpuni dalam memimpin Jakarta dan hasilnya sangat jelas dilihat dan dirasakan oleh Jakarta dalam Debat terlihat begitu piawai dalam debat tersebut. Ini jelas terlihat jika lawan mereka tidak banyak menyingung masalah data-data konkrit seperti debat sebelumnya yang dilaksanakan oleh salah satu TV swasta.
  4. Anies & Sandi sebagai kandidat no 3 yang berlatar belakang akademisi dan pengusaha dalam debat mengebu-gebu dan bersemangat dalam memaparkan programnya terlihat seperti seorang motivator dan cukup banyak menyingung masalah pendidikan, mungkin karena beliau mantan menteri pendidikan jadi merasa paling menguasai masalah pendidikan sehingga muncullah KJP (Kartu Jakarta Pintar) Plus padahal semua itu sudah dilaksanakan oleh Gubernur petahana. Satu hal yang agak sedikit mengecewakan bagi saya adalah dalam debat tersebut Anies Baswedan tampil sebagai orang berbeda atau dapat dikatakan sama seperti calon gubernur yang sedang bertarung pada umumnya, padahal saya pribadi mengharapkan apa yang diucapkan oleh Anies selama ini menjadi kenyataan yaitu Orang baik maju dalam dunia politik sehingga politik itu menjadi baik tetapi disini terlihat politik adalah politik.

Masih ada debat-debat selanjutnya, harapan saya adalah debat ini akan memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat dan tentunya hari nurani masyarakat bebas memilih dari ketiga kandidat yang ada. (PEB)

 

KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Leave a comment

Tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara kembali mencoreng dunia pendidikan di Indonesia. Ini sudah terjadi yang ketiga kali terjadi di STIP dan tentunya hal ini menunjukkan bahwa kekerasan di STIP belumlah hilang dan air mata orang tua kembali menetes melihat anak pulang tak bernyawa dan orang tua pelaku tertunduk lesu dan malu melihat anak mereka mengenakan seragam tahanan polisi sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatan mereka.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekolah kedinasan sering diwarnai tindakan kekerasan atau sering disebut pendidikan semi militer dengan harapan taruna akan menjadi manusia yang tangguh ketika mereka benar-benar telah terjun dalam dunia pekerjaan mereka sesungguhnya. Sudah beberapa kali juga terjadi kekerasan di beberapa sekolah kedinasan yang ada di Nusantara ini dan beberapa sekolah kedinasan yang berada dibawah kementerian juga menyatakan bahwa mereka sudah membuat SOP baru dalam menghindari tindakan kekerasan di dalam lingkungan kampus termasuk Kementerian Perhubungan yang membawahi STIP.

Tewasnya Taruna di STIP yang baru-baru ini terjadi merupakan bukti bahwa tidak sepernuhnya tindakan kekerasan tersebut hilang dan hal ini menjadi sebuah bukti bahwa SOP dan strategi yang dibuat Kementerian Perhubungan telah gagal dalam melakukan pencegahan tindakan kekerasan dalam lingkungan kampus STIP.

Tindakan kekerasan sepertinya sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari STIP, oleh karena itu seharusnya dilakukan tindakan tegas oleh kementerian yang membawahi STIP. Tidak cukup dengan mencopot kepala STIP tetapi harus membuat tindakan tegas dengan memutus rantai kekerasan di dunia STIP dengan menghentikan penerimaan taruna baru hingga semua taruna yang ada sekarang lulus. Taruna baru yang diterima harus diberikan doktrin baru untuk tidak menggunakan kekerasan dalam mendidik mental tangguh seorang taruna termasuk dalam memberikan hukuman jika seorang taruna melakukan kesalahan. Mental dapat didik dengan metode-metode baru yang lebih positif termasuk dengan mendidik kembali paran tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam mempersiapkan taruna yang hebat dan tangguh tanpa diikuti dengan kekerasan.

Kita ketahui bersama bahawa taruna-taruna yang ada di STIP merupakan pemudah-pemuda pilihan dan mengikuti seleksi yang ketat ketika masuk STIP, alangkah sayangnya jika mereka kehilangan nyawa atau menjadi seorang terpidana ketika mereka menempuh pendidikan di lingkungan kampus padahal di depan mereka ada masa depan yang cerah menunggu mereka. (PEB)

Older Entries Newer Entries